Rosan: PFII Beroperasi di Jakarta, Bali Menyusul
Danantara Siapkan Masa Transisi 2-3 Tahun untuk Membangun Kepercayaan Investor Sebelum Pengembangan PFII di Bali.
JAKARTA – CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, memastikan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) tidak akan langsung beroperasi di Bali. Pemerintah memilih Jakarta sebagai pusat operasional awal selama masa transisi dua hingga tiga tahun sebelum pengembangan dilakukan di Pulau Dewata.
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan di Istana Kepresidenan, Kamis (23/7), sekaligus menjawab berbagai spekulasi mengenai lokasi awal operasional PFII.
Menurut Rosan, pembangunan pusat keuangan bertaraf internasional memerlukan persiapan matang agar mampu menarik kepercayaan investor global.
"Dan memang rencananya itu akan dibuat di Bali, tetapi kan perlu ada persiapan mungkin selama dua atau tiga tahun sampai itu menjadi suatu financial center yang bertaraf internasional dan juga akan bisa membuat para investor itu melihat," kata Rosan.
Ia menjelaskan, selama masa transisi tersebut operasional PFII akan dijalankan dari Jakarta. Langkah ini dipilih karena ibu kota telah memiliki infrastruktur pendukung, akses terhadap regulator, serta ekosistem industri keuangan yang lebih siap.
Untuk mendukung efisiensi, Danantara juga akan memanfaatkan Gedung Danareksa sebagai kantor operasional sementara sehingga tidak perlu membangun fasilitas baru sebelum seluruh ekosistem PFII terbentuk.
Rosan menegaskan bahwa Bali tetap menjadi bagian penting dalam rencana jangka panjang pengembangan PFII. Setelah masa transisi selesai, operasional pusat keuangan internasional itu dimungkinkan berjalan di dua lokasi.
"Bisa di Jakarta dan juga di Bali," ujar Rosan.
Skema tersebut membuka peluang terbentuknya model dual hub, di mana Jakarta tetap menjadi pusat aktivitas regulasi dan bisnis keuangan nasional, sedangkan Bali dapat dikembangkan sebagai pusat layanan keuangan internasional, pengelolaan kekayaan (wealth management), hingga pengembangan keuangan berkelanjutan.
Strategi bertahap tersebut dinilai sebagai pendekatan yang lebih realistis dalam membangun pusat keuangan berkelas dunia. Selain memberi waktu untuk menyempurnakan regulasi, masa transisi juga dimanfaatkan untuk memperkuat ekosistem investasi, menarik talenta keuangan global, dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap PFII.
Dengan demikian, Bali tetap menjadi tujuan utama pengembangan Pusat Finansial Internasional Indonesia, sementara Jakarta berperan sebagai fondasi awal agar proyek strategis tersebut dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Editor - Ray


