Dari Tepi Danau ke Markas Udayana, Ketika Ngayah Menjadi Bahasa Kepemimpinan Danrem 163/Wirasatya

Turun langsung dalam kegiatan sosial dan lingkungan, Danrem 163/Wirasatya menunjukkan pendekatan teritorial melalui pengabdian dan kedekatan dengan masyarakat Bali.

Dari Tepi Danau ke Markas Udayana, Ketika Ngayah Menjadi Bahasa Kepemimpinan Danrem 163/Wirasatya
Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra (berdiri)

DENPASAR – Di tengah dinamika keamanan dan kehidupan sosial masyarakat Bali, sosok Komandan Korem (Danrem) 163/Wirasatya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, menarik perhatian melalui pendekatan kepemimpinan yang tidak selalu berlangsung di ruang komando.

Bukan hanya hadir dalam kegiatan kedinasan, upacara, maupun agenda formal militer, Danrem 163/Wirasatya juga terlihat turun langsung dalam sejumlah kegiatan sosial dan lingkungan. Mulai dari membantu pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat hingga terlibat dalam kegiatan kebersihan kawasan danau.

Bagi masyarakat Bali, sikap tersebut memiliki makna tersendiri. Pengabdian itu kerap dikaitkan dengan konsep ngayah, sebuah nilai yang telah lama hidup dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali.

Ngayah, Pengabdian yang Hadir dalam Tindakan

Dalam kehidupan masyarakat Bali, ngayah tidak sekadar dimaknai sebagai aktivitas membantu. Ngayah merupakan bentuk pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan, baik kepada masyarakat, lingkungan, maupun dalam menjalankan kewajiban sosial dan keagamaan.

Nilai tersebut kemudian terlihat dalam sejumlah aktivitas sosial yang dilakukan Danrem 163/Wirasatya.

Ketika persoalan kekeringan dan keterbatasan air bersih muncul di sejumlah wilayah, kehadiran aparat TNI tidak hanya diwujudkan melalui distribusi bantuan. Kegiatan di lapangan juga diarahkan agar kebutuhan masyarakat dapat ditangani secara langsung.

Begitu pula dalam kegiatan menjaga lingkungan. Kawasan danau sebagai salah satu sumber kehidupan dan bagian penting dari ekosistem Bali menjadi perhatian. Kegiatan pembersihan lingkungan, pengangkutan sampah, hingga keterlibatan langsung personel di lapangan menjadi bagian dari upaya tersebut.

Kehadiran seorang komandan di tengah masyarakat dalam kegiatan semacam itu membawa pesan bahwa tugas pertahanan dan keamanan tidak berdiri sendiri. Ada dimensi sosial dan lingkungan yang juga menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Menjaga Bali, Bukan Hanya dari Ancaman Keamanan

Bagi masyarakat Bali, menjaga keamanan tidak semata-mata berbicara mengenai ancaman militer atau persoalan ketertiban. Keamanan juga berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Dalam konteks itu, keterlibatan Danrem 163/Wirasatya dalam kegiatan sosial dan lingkungan dapat dilihat sebagai bentuk pendekatan teritorial. Prajurit tidak hanya menjalankan fungsi pertahanan, tetapi juga membangun kedekatan dengan masyarakat melalui kegiatan yang menyentuh kebutuhan langsung warga.

Pendekatan tersebut sejalan dengan karakter teritorial TNI yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menjaga stabilitas wilayah.

Di Bali, pendekatan itu kemudian menemukan relevansinya dengan nilai Tri Hita Karana, yakni keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Ketika Putra Daerah Mengabdi di Tanah Kelahiran

Kehadiran Danrem 163/Wirasatya di berbagai kegiatan masyarakat juga mendapat perhatian karena dirinya memiliki keterikatan dengan Bali.

Menjadi bagian dari masyarakat Bali sekaligus memimpin satuan kewilayahan di Pulau Dewata menempatkan dirinya pada ruang pengabdian yang tidak hanya bersifat kedinasan.

Seragam yang dikenakan membawa tanggung jawab institusional. Namun, keterlibatan langsung di tengah masyarakat menunjukkan sisi lain dari kepemimpinan seorang perwira: kemampuan untuk hadir, mendengar dan bekerja bersama masyarakat.

Nilai seperti itu tidak selalu dapat diukur melalui laporan administratif. Dalam kehidupan masyarakat, kepemimpinan justru sering dinilai dari seberapa jauh seorang pemimpin hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Nama Danrem dan Dinamika Kepemimpinan Kodam IX/Udayana

Dalam dinamika pergantian kepemimpinan TNI AD, nama Danrem 163/Wirasatya turut menjadi perhatian publik ketika pembicaraan mengenai kemungkinan pergantian Pangdam IX/Udayana muncul.

Namun, keputusan mengenai jabatan Pangdam merupakan kewenangan pimpinan TNI AD melalui mekanisme organisasi dan penugasan yang berlaku.

Karena itu, berbagai harapan yang muncul di tengah masyarakat perlu ditempatkan sebagai aspirasi, bukan sebagai kepastian mengenai siapa yang akan menduduki jabatan tersebut.

Bagi sebagian masyarakat Bali, sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat, memahami karakter wilayah, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan dinilai memiliki arti penting dalam menjalankan kepemimpinan teritorial.

Ngayah sebagai Bahasa Kepemimpinan

Pada akhirnya, makna ngayah tidak terletak pada seberapa sering istilah itu diucapkan, melainkan pada tindakan yang dilakukan.

Turun ke lapangan, membantu masyarakat mendapatkan air bersih, terlibat dalam menjaga lingkungan, dan membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat merupakan bentuk pengabdian yang dapat dirasakan secara langsung.

Bagi seorang prajurit, pengabdian kepada negara merupakan amanah. Bagi seorang putra daerah, pengabdian itu dapat memiliki makna tambahan ketika dilakukan di tanah kelahiran sendiri.

Di tengah perubahan dan tantangan yang dihadapi Bali, kepemimpinan yang hadir di tengah masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.

Dan bagi masyarakat Bali, ngayah bukan sekadar tradisi. Ia adalah cara untuk mengingat bahwa setiap jabatan pada akhirnya merupakan amanah, sementara setiap pengabdian meninggalkan jejak di tengah masyarakat.

Menjelang kemungkinan pergantian estafet kepemimpinan di Kodam IX/Udayana, harapan masyarakat pun kembali pada satu hal sederhana: siapa pun yang mendapat amanah, hendaknya mampu hadir sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, menjaga keamanan, serta ikut merawat Bali dan seluruh kehidupannya.

Editor - Ray