KEK Kura Kura Bali Usung Konsep 6 L Berbasis Tri Hita Karana

BTID mengembangkan KEK Kura Kura Bali seluas 498 hektare dengan integrasi pariwisata, ekonomi kreatif, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan gaya hidup.

KEK Kura Kura Bali Usung Konsep 6 L Berbasis Tri Hita Karana
Foto: Tuti Hadiputranto Presiden Direktur PT Bali Turtle Island Development (BTID) (kiri, baju hijau) dan Tantowi Yahya Presiden Komisaris PT Bali Turtle Island Development (BTID) (kanan, pakai udeng).

DENPASAR — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali terus dikembangkan sebagai kawasan pariwisata dan ekonomi kreatif yang mengintegrasikan budaya Bali, kelestarian lingkungan, pendidikan, kesehatan, hingga gaya hidup modern.

Pengembangan kawasan seluas 498 hektare yang dikelola PT Bali Turtle Island Development (BTID) tersebut mengacu pada filosofi Tri Hita Karana, sekaligus menerapkan konsep 6 L, yakni Living, Learning, Leisure, Landscape, Lifestyle, dan Longevity.

Presiden Komisaris BTID, Tantowi Yahya, mengatakan pengembangan KEK Kura Kura Bali diarahkan untuk menghadirkan destinasi yang tidak hanya mengandalkan sektor akomodasi, tetapi membangun ekosistem pariwisata secara terintegrasi.

“Syukur Alhamdulillah, Astungkara niat ini disambut baik oleh Pemerintah. Jadi, April 2023 kita diresmikan oleh Pemerintah sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Tantowi Yahya saat menerima kunjungan kerja reses Komisi XII DPR RI di KEK Kura Kura Bali, Kamis, 23 Juli 2026.

BTID telah mengelola kawasan tersebut sejak 1994. Dalam perkembangannya, kawasan kemudian ditetapkan sebagai KEK pariwisata dan ekonomi kreatif pada April 2023.

Dari sisi investasi, hingga triwulan II 2026 nilai investasi yang tercatat mencapai Rp1.796,82 miliar. Investasi tersebut melibatkan tiga pelaku usaha dan menyerap 5.316 tenaga kerja, yang sebagian besar berasal dari masyarakat lokal, termasuk warga Desa Serangan.

Sementara itu, total investasi pembangunan kawasan sejak proses pengusulan KEK mencapai Rp2.850,58 miliar.

KEK Kura Kura Bali juga menawarkan sejumlah fasilitas dan insentif bagi investor, antara lain tax holiday, berbagai insentif hingga 20 tahun, kemudahan perekrutan tenaga kerja internasional, serta percepatan proses kepabeanan.

Ubah Lahan Tandus Jadi Kawasan Hijau

Presiden Direktur BTID, Tuti Hadiputranto, mengatakan transformasi lingkungan menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan KEK Kura Kura Bali.

Menurutnya, kawasan yang sebelumnya didominasi lahan kering secara bertahap dihijaukan melalui penanaman ratusan ribu pohon.

“Awalnya, tanah kering kerontang. Kita melepas ratusan kerbau dan sapi dibiarkan tumbuh liar sampai sekarang masih ada sapi dan kerbau liar berkeliaran. Dengan kotoran dari sapi dan kerbau mengakibatkan tanah menjadi subur, akhirnya kita membeli 700.000 pohon ditanam di sini,” ujar Tuti.

Penghijauan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kawasan yang mempertahankan karakter alam Bali. Kawasan itu kini disebut menjadi habitat bagi sekitar 160 spesies burung.

Tuti menegaskan, BTID tidak ingin pengembangan KEK Kura Kura Bali berhenti pada pembangunan hotel semata. Konsep yang dibangun adalah destinasi pariwisata terpadu dengan berbagai aktivitas ekonomi dan rekreasi.

“Kita akan membangun sesuatu yang beda, harus berkelas. Kita tidak mau membangun pariwisata hanya sekadar membuat hotel dan seperti tempat-tempat lain di Bali. Kami membuat integrated tourism destination,” katanya.

Enam Pilar Pengembangan

Konsep 6 L menjadi salah satu fondasi pengembangan ekosistem KEK Kura Kura Bali.

Living diarahkan untuk menciptakan lingkungan hidup dan hunian yang sehat, inklusif, serta harmonis. Implementasinya antara lain melalui penggunaan paving block berongga untuk meningkatkan resapan air dan pembangunan tujuh danau retensi untuk pengelolaan air hujan.

Learning dikembangkan sebagai ruang pendidikan, riset, inovasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pilar ini diarahkan untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif dan teknologi.

Leisure berfokus pada fasilitas rekreasi dan pariwisata berstandar internasional, termasuk resor terpadu dan marina internasional dengan tetap mengedepankan lanskap lokal.

Sementara Landscape menitikberatkan pada pelestarian alam dan revitalisasi ekosistem pesisir. Penanaman lebih dari 700 ribu pohon menjadi salah satu program utama dalam pilar ini.

Kemudian Lifestyle diarahkan untuk menghadirkan pusat gaya hidup yang mencakup fesyen, kuliner, retail, dan hiburan kreatif. Salah satu implementasinya adalah Sira Village Grand Outlet Bali (GOB), yang memadukan produk retail global dengan produk kreatif lokal Bali.

Adapun Longevity dikembangkan melalui konsep wellness yang mencakup kesehatan fisik dan mental, fasilitas medis modern, pusat kebugaran, serta lingkungan yang mendukung kualitas hidup.

Tuti mengatakan seluruh konsep tersebut tetap dikaitkan dengan nilai-nilai lokal Bali.

“Jadi, kita ikuti filosofi dari Bali yang sangat bagus menurut kita dan sesuai dengan apa yang akan kita kembangkan,” jelasnya.

Dengan pendekatan Tri Hita Karana dan enam pilar 6 L, KEK Kura Kura Bali diproyeksikan menjadi kawasan yang menggabungkan pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan gaya hidup dalam satu ekosistem.

Dalam pengembangan jangka panjang, kawasan tersebut juga diarahkan menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi dan keuangan, termasuk rencana pengembangan Indonesia Financial Center di masa mendatang.

 Editor - Ray