Pertamax Turun Harga, Bali Justru Dilanda Krisis Pasokan
Harga Pertamax turun Rp300 menjadi Rp15.950 per liter, namun sejumlah SPBU di Denpasar dan sekitarnya mengalami kekosongan stok sehingga memicu antrean panjang dan peralihan konsumen ke Pertalite.
DENPASAR – Penurunan harga Pertamax (RON 92) sebesar Rp300 per liter yang mulai berlaku sejak 1 Agustus 2026 seharusnya menjadi kabar baik bagi masyarakat. Namun di Bali, khususnya Kota Denpasar dan sekitarnya, kebijakan tersebut justru dibayangi persoalan distribusi setelah sejumlah SPBU dilaporkan kehabisan stok Pertamax pada Senin (3/8/2026).
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan terjadi di sejumlah SPBU, antara lain di kawasan Ida Bagus Mantra, Hang Tuah, Sanur, Bypass Ngurah Rai hingga Suwung. Banyak pengendara yang datang untuk mengisi Pertamax terpaksa pulang tanpa memperoleh BBM non-subsidi tersebut karena stok habis.

Kondisi tersebut memicu pergeseran konsumsi ke Pertalite. Pengendara yang sebelumnya memilih Pertamax akhirnya beralih ke BBM bersubsidi agar aktivitas mereka tidak terganggu akibat harus mencari SPBU lain yang masih memiliki persediaan.
Fenomena ini dinilai berpotensi mengganggu tujuan pemerintah dalam mendorong penggunaan BBM non-subsidi melalui kebijakan penyesuaian harga. Insentif berupa harga yang lebih rendah menjadi kurang efektif apabila ketersediaan produk di lapangan tidak dapat dipastikan.
Selain berdampak kepada masyarakat umum, gangguan pasokan juga berpotensi memengaruhi sektor transportasi, logistik, hingga pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian Bali. Waktu yang terbuang akibat antrean panjang dapat menurunkan produktivitas masyarakat maupun pelaku usaha.
Hingga berita ini disusun, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab terganggunya distribusi Pertamax di sejumlah SPBU di Bali. Berbagai kemungkinan mulai dari kendala distribusi, keterlambatan pasokan dari terminal BBM, hingga persoalan manajemen stok masih menunggu klarifikasi dari pihak berwenang.
Pihak Pertamina maupun BUMN energi terkait diharapkan segera menyampaikan penjelasan resmi kepada masyarakat agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap ketersediaan bahan bakar.
Sejumlah pengamat energi menilai keandalan pasokan menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan konsumen.
"Penurunan harga akan memberikan manfaat apabila diikuti dengan jaminan ketersediaan barang di lapangan. Kepercayaan masyarakat dibangun bukan hanya dari harga yang kompetitif, tetapi juga dari kepastian pasokan ketika dibutuhkan," demikian pandangan yang berkembang di kalangan pemerhati sektor energi.
Sementara itu, masyarakat juga menantikan penjelasan resmi dari Pertamina terkait penyebab kekosongan stok Pertamax di sejumlah SPBU serta langkah yang akan ditempuh untuk menormalkan distribusi agar kondisi serupa tidak kembali terjadi.
Editor - Ray


