Tujuh Kasus Kematian Suspek Rabies, PDHI Bali Perkuat Pencegahan Menuju 2028

PDHI Bali dan Yayasan Suara Kasih Satwa Perkuat Gerakan Eliminasi Rabies Menuju 2028. Vaksinasi, sterilisasi anjing, pemeriksaan kesehatan gratis hingga edukasi masyarakat digelar dalam World Rabies Day 2026 di Renon, Denpasar.

Tujuh Kasus Kematian Suspek Rabies, PDHI Bali Perkuat Pencegahan Menuju 2028
Kegiatan peringatan World Rabies Day (WRD) 2026.

DENPASAR – Upaya mempercepat eliminasi rabies di Bali terus diperkuat melalui kolaborasi lintas organisasi, pemerintah, akademisi, legislatif, serta komunitas pencinta satwa. Komitmen tersebut terlihat dalam peringatan World Rabies Day (WRD) 2026 yang digelar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bali bersama Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia, Yayasan Kitabisa, dan Anggota Komisi IX DPR RI Tutik Kusuma Wardhani, Minggu (27/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Lapangan Puputan Margarana, Renon, Denpasar, itu mengusung tema “Stronger Together – Lebih Kuat Bersama untuk Eliminasi Rabies di Bali”. Kegiatan turut melibatkan Pemerintah Provinsi Bali dan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.

Sejumlah layanan diberikan kepada masyarakat, mulai dari vaksinasi rabies, sterilisasi atau pengendalian populasi Hewan Penular Rabies (HPR), pemeriksaan kesehatan hewan secara gratis, edukasi pemeliharaan anjing, hingga kegiatan Pet Fun Run dan Dog Show.

Ketua PDHI Cabang Bali, drh. I Dewa Made Anom, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum peringatan World Rabies Day, tetapi juga sarana untuk memperluas edukasi mengenai kepemilikan dan pemeliharaan anjing yang bertanggung jawab.

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, untuk memahami mengenai pemeliharaan anjing yang baik dan benar,” ujar drh. I Dewa Made Anom.

Ia menyebut populasi anjing di Bali diperkirakan mencapai sekitar 500 ribu ekor. Namun, angka tersebut menurutnya masih membutuhkan pendataan atau sensus yang lebih akurat agar kebijakan pengendalian populasi dan penanggulangan rabies dapat dilakukan secara lebih tepat.

Drh. I Dewa Made Anom optimistis target Bali bebas kasus rabies pada 2028 dapat diwujudkan apabila seluruh pihak terlibat secara konsisten. Ia juga menyampaikan, berdasarkan laporan dinas terkait yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, terdapat tujuh orang meninggal dunia akibat suspek rabies sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami perubahan perilaku pada anjing yang patut dicurigai, antara lain menjadi agresif, kehilangan nafsu makan, tidak terkendali, hingga mulai menggigit benda maupun hewan lain di sekitarnya.

Ia menegaskan pencegahan harus dilakukan sejak dari pemeliharaan hewan. Pemilik anjing diimbau memperhatikan pemberian pakan, kebersihan hewan dan lingkungan, sosialisasi, serta memastikan vaksinasi rabies dilakukan secara berkala.

“Vaksinasi penyakit lain seperti Distemper dan Parvovirus, Leptospira interrogans, serta pemberian obat cacing dan antiparasit juga penting untuk menjaga kesehatan hewan sekaligus mencegah penyakit yang dapat menular kepada manusia,” jelasnya.

Terkait penanganan gigitan, drh. I Dewa Made Anom mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pertolongan. Secara medis, WHO merekomendasikan luka akibat paparan yang berisiko rabies segera dicuci dan dibilas dengan air mengalir serta sabun selama sedikitnya 15 menit, kemudian korban segera mendapatkan penilaian medis untuk menentukan kebutuhan vaksin dan tindakan lanjutan.

Di sisi lain, Ketua Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia (The Voice of PAW Bali Foundation), Michelle Angel, mengatakan pihaknya mendukung kegiatan PDHI sebagai bagian dari upaya bersama mengendalikan populasi anjing dan menekan risiko penyebaran rabies.

“Biasanya kami bersama Kitabisa melakukan sterilisasi setiap bulan, namun kali ini kami ikut mendukung kegiatan dari PDHI.” ujar Michelle.

Dalam kegiatan tersebut, Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia juga menyediakan layanan sterilisasi gratis bagi anjing jalanan yang sebelumnya telah ditangkap.

“Bila ada pemilik anjing yang ingin mensterilkan anjingnya, bisa datang ke sini juga. Gratis,” katanya.

Michelle menambahkan, dukungan yayasan tidak sebatas sterilisasi. Tim juga terlibat dalam kegiatan penangkapan anjing liar di sejumlah wilayah Denpasar untuk membantu pengendalian populasi.

“Kami juga mendukung tenaga. Paginya ikut menangkap anjing liar,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Tutik Kusuma Wardhani, mengatakan penanganan rabies membutuhkan koordinasi lintas sektor karena persoalan tersebut berkaitan dengan kesehatan hewan sekaligus kesehatan masyarakat.

Tutik menyampaikan telah berkoordinasi dengan Komisi IV DPR RI karena urusan kesehatan hewan dan rabies berada dalam lingkup sektor pertanian, sementara Komisi IX memiliki fokus pada bidang kesehatan masyarakat.

“Sementara, saya yang kini duduk di Komisi IX lebih fokus pada kesehatan masyarakat. Tentu, kami sangat mendukung program pengentasan rabies di Bali,” ujar Tutik.

Menurut Tutik, tingginya populasi anjing di Bali menjadi salah satu tantangan dalam upaya memutus rantai penularan rabies. Karena itu, momentum World Rabies Day 2026 diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap vaksinasi, pengendalian populasi, serta pemeliharaan hewan yang bertanggung jawab.

Upaya eliminasi rabies sendiri membutuhkan kombinasi vaksinasi anjing, pengendalian populasi, pencegahan gigitan, serta akses cepat terhadap penanganan pascapaparan. WHO menyebut vaksinasi anjing merupakan salah satu strategi paling efektif untuk mencegah rabies pada manusia.

Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, PDHI Bali dan Yayasan Suara Kasih Satwa Indonesia mendorong keterlibatan masyarakat sebagai bagian penting dari target eliminasi rabies di Bali menuju 2028.

Editor - Ray