Algo Sapiens! Ketika Algoritma Mulai Mengendalikan Cara Manusia Berpikir dan Memilih
Komaruddin Hidayat menilai kemajuan kecerdasan buatan dan algoritma membawa kemudahan, tetapi sekaligus berisiko mengikis otonomi berpikir, kebebasan memilih, hingga esensi kemanusiaan.
Denpasar — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menghadirkan paradoks baru dalam kehidupan manusia. Teknologi yang semula diciptakan untuk membantu manusia menyelesaikan persoalan justru berpotensi membentuk cara manusia berpikir, mengambil keputusan, hingga menentukan perilaku sehari-hari.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat dalam tulisannya berjudul “Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin”. Ia menggambarkan kemunculan sosok manusia baru yang tetap memiliki tubuh, emosi, keluarga, agama, dan kehidupan sosial, tetapi semakin banyak keputusan hidupnya dipengaruhi sistem algoritmik.
Menurut Komaruddin, manusia pada awalnya menciptakan algoritma untuk membantu menganalisis persoalan dan mengambil keputusan. Namun, dalam perkembangannya, manusia justru semakin menyerahkan berbagai keputusan kepada sistem yang terus memantau aktivitas, membaca kebiasaan, serta memberikan rekomendasi.
“Manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kinerja otak dan pikiran, tetapi lama-lama kecerdasan buatan itu yang menjadi sandaran menggantikan kinerja otak dan pikiran kita.”
Kondisi tersebut, menurut dia, melahirkan istilah algo sapiens, yakni manusia yang secara biologis tetap merupakan homo sapiens, tetapi pola berpikir dan kebiasaan hidupnya semakin dibentuk oleh algoritma.
Algoritma dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari informasi yang dibaca, video yang ditonton, produk yang dibeli, berita yang dipercaya, hingga persoalan yang dianggap penting.
Komaruddin menilai kekuasaan algoritmik berbeda dengan bentuk kekuasaan konvensional. Jika kekuasaan tradisional cenderung menggunakan instruksi dan larangan secara langsung, teknologi digital bekerja melalui rekomendasi dan pengaturan lingkungan pilihan.
“Teknologi digital hadir dengan bujuk rayu yang jauh lebih halus: ‘Saya tahu apa yang Anda inginkan dan saya punya saran apa yang sebaiknya Anda lakukan’.”
Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan erat dengan pemikiran Shoshana Zuboff dalam buku The Age of Surveillance Capitalism (2018). Zuboff menjelaskan bagaimana pengalaman manusia dapat dikumpulkan menjadi data perilaku, kemudian diolah untuk memprediksi tindakan seseorang.
Jejak digital muncul hampir dalam seluruh aktivitas sehari-hari. Ketika seseorang melakukan pencarian di internet, menggunakan media sosial, berbelanja secara daring, menonton video, menggunakan telepon pintar, hingga berhenti beberapa detik lebih lama pada suatu gambar, aktivitas tersebut dapat menghasilkan data yang dibaca oleh sistem.
Semakin banyak data yang tersedia, semakin besar kemampuan sistem dalam mengenali pola perilaku seseorang. Dari sana, algoritma tidak hanya membaca preferensi, tetapi juga memprediksi tindakan dan pada tahap tertentu dapat memengaruhi perilaku.
Komaruddin merangkum proses tersebut sebagai rangkaian pengawasan, prediksi, intervensi, hingga perubahan perilaku.
“Bermula dari pengawasan, berujung pada pengendalian perilaku. Inilah yang membuat era algoritma berbeda dari sekadar era komputer.”
Persoalan lain muncul pada aspek kebebasan berpikir. Komaruddin merujuk pemikiran Franklin Foer dalam World Without Mind (2017), yang mengkhawatirkan semakin berkurangnya otonomi pikiran manusia akibat cara perusahaan teknologi mengatur arus informasi.
Dalam kondisi tersebut, seseorang tetap merasa bebas menentukan pilihan. Namun, pilihan yang tersedia di hadapannya telah lebih dahulu disusun melalui sistem rekomendasi berdasarkan rekam jejak digital.
Seseorang mungkin merasa bebas memilih video yang ditonton, berita yang dibaca, restoran yang dikunjungi atau barang yang dibeli. Namun, menurut Komaruddin, perlu dipertanyakan sejauh mana pilihan tersebut benar-benar lahir dari kehendak pribadi dan sejauh mana telah dibentuk oleh lingkungan digital.
“Jadi, seseorang memang tidak kehilangan kemampuan memilih. Tapi yang terjadi adalah kehilangan kesadaran tentang siapa yang membentuk dan menyediakan lanskap medan pilihannya.”
Kondisi tersebut kemudian digambarkan sebagai bentuk baru dari “penjara tanpa jeruji”. Tidak ada tembok, penjaga atau ancaman langsung, tetapi sistem dapat mengatur lingkungan informasi dan pilihan yang diterima seseorang.
Manusia tetap dapat memilih, tetapi pilihan yang berada di depan mata telah melalui proses penyaringan dan pemeringkatan algoritmik.
Di tengah perkembangan tersebut, persoalan kecemasan manusia juga tidak otomatis menghilang. Komaruddin mengaitkannya dengan pemikiran Han Byung-chul dalam The Anxious Society, yang melihat masyarakat modern sebagai masyarakat yang dibayangi ketakutan terhadap kegagalan, ketertinggalan, kehilangan masa depan, serta berkurangnya kendali atas kehidupan sendiri.
Menurut Komaruddin, pemikiran Zuboff, Foer dan Han Byung-chul dapat dibaca sebagai satu rangkaian persoalan. Manusia semakin banyak dipantau melalui data, menghadapi ancaman terhadap otonomi pikirannya, sekaligus mengalami kecemasan dan kesepian di tengah kehidupan digital.
Kemudahan teknologi, kata dia, pada awalnya memberikan kenyamanan dan kesenangan. Namun, ketika kemudahan tersebut berubah menjadi kebiasaan dan ketergantungan, muncul risiko terhadap kemampuan manusia untuk berpikir secara mandiri.
“Bahayanya, kebiasaan ini akan memperlemah dan mendegradasi kapasitas kita sebagai homo sapiens.”
Ia menilai ketergantungan terhadap mesin dapat membuat daya ingat tidak terlatih, kemampuan analisis menjadi tumpul, serta mengurangi pengalaman manusia dalam belajar dari kesalahan dan mengambil keputusan secara mandiri.
Pada titik inilah persoalan kecerdasan buatan tidak lagi sebatas mengenai kecanggihan teknologi, melainkan menyentuh pertanyaan mendasar tentang manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak, tanggung jawab dan kemampuan menentukan arah hidup.
“Kecerdasan buatan mungkin memiliki intelligence yang semakin tinggi. Tetapi kecerdasan bukanlah kebijaksanaan.”
Komaruddin menegaskan bahwa manusia memiliki kemampuan yang tidak sekadar berkaitan dengan pengolahan informasi. Manusia mampu mempertanyakan makna kehidupan, meragukan keputusan, berempati, berharap, melakukan refleksi, mengakui kesalahan, serta memilih untuk mengubah hidupnya.
“Ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merenung, meragukan, membayangkan, berempati, berharap, dan memilih hidup baru secara sadar, yang hilang bukan sekadar privasi, tetapi esensi kemanusiaan itu sendiri.”
Gagasan tentang algo sapiens pada akhirnya menempatkan perkembangan teknologi digital dalam pertanyaan yang lebih luas: bukan lagi sekadar seberapa pintar mesin yang berhasil diciptakan manusia, melainkan apakah manusia masih mampu mempertahankan kendali atas pikiran, pilihan dan tanggung jawabnya sendiri di tengah semakin kuatnya pengaruh algoritma.
Editor - Ray


