BMKG PERINGATKAN CUACA EKSTREM BALI! Utara Dilanda Kekeringan, Selatan Terancam Hujan Lebat dan Petir
DENPASAR – Anomali cuaca mulai membayangi Pulau Dewata pada awal November 2026. Ketika sejumlah wilayah Bali bagian utara masih bergulat dengan kekeringan berkepanjangan, kawasan selatan dan sentral justru menghadapi peningkatan potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Perbedaan kondisi cuaca tersebut menjadi perhatian serius menyusul informasi Stasiun Klimatologi BMKG Bali tertanggal 31 Oktober 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi perubahan cuaca selama masa peralihan musim, terutama terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.
Berdasarkan data yang disampaikan, suhu maksimum Bali pada periode 21–31 Oktober 2026 mencapai 33 derajat Celsius. Sementara itu, angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan mencapai 30 kilometer per jam.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dinamika atmosfer di Bali masih cukup aktif. Potensi hujan di sejumlah daerah perlu menjadi perhatian, terlebih ketika sebagian wilayah lainnya masih mengalami defisit curah hujan.
Selatan dan Sentral Bali Berpotensi Diguyur Hujan Lebat, Utara Masih Kekeringan
Prakiraan peluang curah hujan untuk periode 1–10 November 2026 menunjukkan sejumlah wilayah Bali bagian selatan dan sentral memiliki potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Tabanan, Gianyar, Kota Denpasar, serta sebagian Badung, Bangli, Klungkung, dan Karangasem.
Bahkan, berdasarkan peta peluang hujan dalam informasi BMKG tersebut, beberapa wilayah seperti Penebel dan Pupuan memiliki peluang curah hujan lebih dari 90 persen. Potensi hujan dengan intensitas tinggi, termasuk curah hujan di atas 50 milimeter per hari, perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan risiko genangan, banjir, hingga longsor di kawasan rawan.
Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, sejumlah wilayah di Jembrana dan Buleleng masih menghadapi persoalan kekeringan. Beberapa kecamatan, di antaranya Seririt, Busungbiu, Banjar, Sukasada, Sawan, dan Kubutambahan, tercatat mengalami hari tanpa hujan selama 52 hingga 164 hari.
Kondisi ini membuat ancaman kekurangan air bersih dan kebakaran lahan masih perlu diwaspadai. Meski peluang hujan mulai muncul, masyarakat tidak seharusnya langsung menganggap risiko kekeringan telah berakhir.
BMKG juga mengingatkan karakteristik cuaca yang berpotensi terjadi selama periode tersebut, yakni hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Karakteristik hujan semacam ini patut diwaspadai karena perubahan cuaca dapat berlangsung cepat. Hujan yang turun dalam waktu relatif singkat tetap berpotensi menimbulkan genangan, mengganggu aktivitas masyarakat, serta meningkatkan risiko pohon tumbang dan kerusakan bangunan.
Salah satu imbauan keselamatan yang ditekankan BMKG adalah, "Hindari berteduh di bawah pohon."
Masyarakat yang sedang beraktivitas di luar ruangan diminta segera mencari tempat berlindung yang aman ketika hujan disertai petir dan angin kencang mulai terjadi. Pengendara juga perlu mengurangi kecepatan saat hujan karena jalanan licin dan jarak pandang dapat berubah secara tiba-tiba.
Warga Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan disarankan membersihkan saluran drainase, memastikan kondisi atap rumah tetap kuat, serta mengantisipasi genangan di lingkungan tempat tinggal. Masyarakat yang bermukim di sekitar sungai dan lereng curam juga perlu memperhatikan perkembangan cuaca.
Sementara itu, warga Jembrana dan Buleleng diimbau tetap menghemat penggunaan air serta mengantisipasi potensi kebakaran lahan. Jika hujan mulai turun setelah periode kering panjang, masyarakat juga perlu mewaspadai aliran permukaan yang berpotensi terjadi ketika tanah belum mampu menyerap air secara optimal.
Bagi pengguna jalan, kewaspadaan perlu ditingkatkan di jalur Denpasar–Gilimanuk dan Bedugul–Singaraja, terutama ketika hujan deras, petir, dan angin kencang terjadi.
Perbedaan kondisi cuaca di Bali pada awal November ini menjadi pengingat bahwa ancaman kekeringan dan hujan ekstrem dapat terjadi secara bersamaan di wilayah yang berdekatan. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca di lingkungan masing-masing, tetapi juga mengikuti informasi dan peringatan resmi BMKG.
Untuk memperoleh informasi cuaca dan perkembangan peringatan dini, masyarakat dapat menghubungi BMKG Bali melalui nomor 0812-3865-492 atau mengakses situs resmi Stasiun Klimatologi Bali di staklim-bali.bmkg.go.id.
Editor - Ray


