Ratusan Umat Ikuti Ritual Warak Keruron Massal di Padanggalak, Jadi Ruang Pemulihan Spiritual dan Batin
DENPASAR – Suasana khidmat menyelimuti kawasan Pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar, saat ratusan umat Hindu mengikuti upacara Warak Keruron, Ngelangkir, dan Ngelungah yang digelar secara massal oleh komunitas Atma Widya bersama Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN).

Prosesi ritual dipuput oleh Ida Rsi Bujangga Waisnawa Putra Sara Sri Satya Jyoti dari Griya Bhuwana Dharma Santhi Sesetan. Sebanyak 203 peserta tercatat mengikuti rangkaian upacara yang diperuntukkan bagi keluarga yang mengalami keguguran maupun kehilangan bayi.
Pinandita I Wayan Dodi Arianta menjelaskan, Warak Keruron merupakan ritual penyucian bagi pasangan suami istri yang mengalami keguguran. Dalam keyakinan Hindu Bali, gugurnya janin tidak hanya dipandang sebagai peristiwa medis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang perlu dihormati.
“Upacara ini menjadi bentuk penghormatan terhadap kehidupan sekaligus sarana penyucian lahir dan batin bagi keluarga yang mengalami keguguran,” ujarnya, Senin (25/5/2026).

Ia mengatakan, masyarakat Hindu Bali meyakini janin yang telah terbentuk telah memiliki unsur kehidupan spiritual atau atman. Karena itu, ketika janin meninggal dalam kandungan, keluarga biasanya melaksanakan ritual khusus untuk memohon ketenangan bagi roh sang janin sekaligus membersihkan kondisi spiritual keluarga yang ditinggalkan.
Secara etimologis, kata Warak atau Barak berarti merah yang melambangkan darah dan kehidupan, sedangkan Keruron bermakna gugur atau berakhirnya kehidupan di dalam kandungan.
Selain Warak Keruron, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan upacara Ngelangkir dan Ngelungah. Ngelangkir diperuntukkan bagi bayi keguguran maupun bayi yang meninggal sebelum tali pusarnya lepas, sedangkan Ngelungah ditujukan bagi bayi yang meninggal sebelum tanggal gigi.
Menurut Pinandita Dodi, ritual ini tidak hanya memiliki makna adat dan spiritual, tetapi juga membantu proses pemulihan psikologis peserta, khususnya perempuan yang mengalami trauma pasca keguguran atau kehilangan bayi.

Ia mengungkapkan, sejumlah peserta mengaku mengalami gangguan batin seperti rasa cemas berkepanjangan, sulit tidur, ketakutan tertentu, hingga pengalaman mistis setelah mengalami kehilangan.
“Ada yang merasa kakinya berat seperti ada yang menggelantung, tempat tidur terasa digoyang, sampai sakit yang tidak kunjung sembuh. Itu terjadi karena kondisi batin mereka belum pulih,” ungkapnya.
Karena itu, komunitas Atma Widya dan PSN memilih menggelar ritual secara massal agar masyarakat dapat mengikuti prosesi dengan lebih nyaman tanpa merasa malu ataupun terbebani stigma sosial, termasuk bagi mereka yang mengalami keguguran di luar pernikahan resmi.
“Melalui upacara bersama seperti ini, peserta merasa lebih tenang karena tidak harus menjalani sendiri atau membuka persoalan pribadinya kepada lingkungan sekitar,” katanya.
Untuk mengikuti ritual tersebut, peserta dikenakan biaya Rp650 ribu per pasangan. Biaya itu mencakup sarana upacara seperti sanggah urip, sesajen, soda putih kuning, dan perlengkapan ritual lainnya. Peserta hanya diminta membawa perlengkapan sembahyang pribadi.

Pinandita Dodi menambahkan, komunitas Atma Widya juga membuka kesempatan bagi peserta yang belum berstatus suami istri secara sah untuk mengikuti prosesi dengan penyesuaian tata upacara sesuai kondisi masing-masing.
Menurutnya, Warak Keruron merupakan bagian dari warisan budaya dan spiritual masyarakat Hindu Bali yang tetap dijaga hingga kini. Ritual tersebut tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap kehidupan, tetapi juga mencerminkan perpaduan nilai agama, adat, dan kemanusiaan dalam menghadapi duka kehilangan.
| Ray
. . .........
Info pendaftaran selanjutnya silahkan hubungi
Klik di Admin


