Bali Bidik Tahta Finansial Asia

Bali diproyeksikan menjadi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dengan dukungan Danantara. Kawasan ini diharapkan menjadi magnet investasi global dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keuangan Asia.

Bali Bidik Tahta Finansial Asia
Sumber gambar: Metro Tv Instagram.

Danantara dorong Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) di Bali sebagai magnet investasi global dan pintu masuk modal dunia.

BALI – Bali bersiap memasuki babak baru dalam sejarah pembangunan nasional. Pulau yang selama ini identik sebagai destinasi wisata kelas dunia kini diproyeksikan berkembang menjadi Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), sebuah kawasan yang disiapkan untuk menarik arus investasi global sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta keuangan internasional.

Transformasi tersebut mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Lembaga investasi strategis nasional itu menilai pengembangan PFII bukan sekadar membangun kawasan bisnis modern, melainkan membentuk ekosistem keuangan yang mampu meningkatkan kepercayaan investor dunia terhadap Indonesia.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, menegaskan bahwa Bali memiliki modal besar untuk berkembang menjadi pusat aktivitas finansial bertaraf internasional.

"PFII bukan hanya membangun kawasan keuangan, tetapi membangun kepercayaan dunia terhadap Indonesia," tegas Dony Oskaria.

Menurutnya, kawasan tersebut harus mampu menghadirkan ekosistem yang menghubungkan modal internasional, inovasi, teknologi, serta sumber daya manusia berkualitas agar mampu bersaing dengan pusat-pusat keuangan global.

Pemerintah pun menjadikan Dubai International Financial Centre (DIFC) sebagai salah satu referensi pengembangan PFII. Kesuksesan Dubai membangun kawasan finansial kelas dunia dinilai menjadi contoh bagaimana sebuah pusat keuangan mampu menarik ribuan perusahaan multinasional dan puluhan ribu tenaga profesional dari berbagai negara.

*Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria,

Keberhasilan DIFC tidak hanya ditopang infrastruktur modern, tetapi juga didukung regulasi yang kompetitif, kepastian hukum, kemudahan berusaha, serta berbagai insentif investasi yang memberikan rasa aman bagi pelaku industri keuangan internasional.

Konsep serupa akan disesuaikan dengan karakteristik Bali. Selain menawarkan infrastruktur bisnis modern, PFII diharapkan memadukan keunggulan ekonomi, pariwisata premium, prinsip pembangunan berkelanjutan, serta kekayaan budaya lokal yang telah menjadi identitas Pulau Dewata di mata dunia.

Posisi geografis Bali yang strategis di kawasan Asia Pasifik, didukung konektivitas penerbangan internasional dan citra global yang telah terbentuk selama puluhan tahun, menjadi modal penting untuk menjadikan pulau ini sebagai gerbang investasi internasional menuju Indonesia.

Meski demikian, realisasi PFII masih menghadapi sejumlah tantangan. Pemerintah perlu memastikan kesiapan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyusunan regulasi yang mampu bersaing dengan pusat finansial dunia, hingga penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta.

Apabila seluruh prasyarat tersebut dapat dipenuhi, kehadiran PFII diyakini akan mengubah wajah perekonomian Bali. Pulau Dewata tidak lagi hanya dikenal sebagai destinasi wisata unggulan, tetapi juga berkembang menjadi pusat pengambilan keputusan investasi, bisnis, dan keuangan yang berpengaruh di tingkat regional maupun global.

Transformasi ini sekaligus membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional melalui masuknya investasi berkualitas, penciptaan lapangan kerja bernilai tinggi, serta peningkatan peran Indonesia dalam sistem keuangan internasional.

Editor - Ray