Erwanto: "Investasi Harus Membuat Masyarakat Ikut Tumbuh"

Erwanto: "Investasi Harus Membuat Masyarakat Ikut Tumbuh"
CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo saat ceramah di Unram. Foto / Ho-Humas Unram.

MATARAM — CEO PT BIBU Panji Sakti Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo menegaskan pembangunan Bandara Internasional Bali Utara tidak semata-mata diarahkan sebagai proyek infrastruktur, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat berbasis investasi sosial.

Hal itu disampaikan Erwanto dalam kuliah umum bertema “Investasi Sosial sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan dalam Pembangunan Bandara Bali Utara” di Ruang Sidang Senat Universitas Mataram, Kamis (7/5/2026).

Kuliah umum yang dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan tokoh masyarakat itu dibuka Rektor Unram Prof. Dr. Sukardi serta dimoderatori Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Sitti Hilyana.

Dalam paparannya, Erwanto menekankan bahwa bisnis tidak hanya berbicara mengenai keuntungan finansial, tetapi juga manfaat sosial dan keberkahan bagi masyarakat.

“Bisnis bukan cuma tentang profit. Tapi tentang amanah, manfaat, dan keberkahan,” ujar Erwanto.
Menurut dia, pembangunan bandara di Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, dirancang menggunakan pendekatan investasi sosial yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama pembangunan, bukan sekadar pihak terdampak proyek.

Salah satu konsep yang ditawarkan ialah pengembangan kawasan aerotropolis seluas sekitar 20 ribu hektare tanpa mengambil alih kepemilikan tanah warga. Skema yang diterapkan berupa kerja sama sewa lahan dengan pengelolaan dipercayakan kepada PT BIBU, sementara kepemilikan aset tetap berada di tangan masyarakat.

“Tanah warga tidak diambil alih dan tidak dipindahtangankan. Masyarakat tetap menjadi pemilik aset,” katanya.

Erwanto mengatakan pendekatan tersebut dipilih untuk meminimalkan dampak sosial yang kerap muncul dalam proyek besar, terutama hilangnya ruang hidup masyarakat lokal akibat alih fungsi lahan.
Ia juga menegaskan pembangunan di Bali harus memperhatikan aspek sosial dan budaya masyarakat adat, tidak hanya memenuhi legalitas administratif.
“Di Bali, pembangunan tidak cukup hanya legal secara administrasi. Ia juga harus diterima secara adat dan budaya,” ujarnya.

Menurut Erwanto, dukungan sosial terhadap proyek tersebut telah ditunjukkan oleh 13 desa di Kecamatan Kubutambahan melalui prosesi adat yang melibatkan perbekel, penglingsir, dan tokoh agama.
Selain pembangunan infrastruktur, PT BIBU juga mulai melakukan pemberdayaan masyarakat melalui sektor pendidikan dan ekonomi kreatif. Salah satunya melalui kerja sama dengan SMK Taruna Mandara Singaraja untuk menyiapkan sumber daya manusia di bidang aviasi.

“Kami tidak ingin masyarakat lokal hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri,” katanya.
PT BIBU juga melakukan pembinaan terhadap pengrajin di Desa Bengkala dengan membuka akses pasar domestik dan internasional. Sementara bagi masyarakat nelayan di pesisir Kubutambahan, perusahaan mengaku melakukan pendekatan persuasif serta kajian teknis terkait dampak pembangunan terhadap aktivitas melaut.

Erwanto menyebut lokasi pembangunan bandara dipilih karena dinilai tidak mengganggu jalur tangkap ikan maupun ekosistem terumbu karang. Proyek tersebut juga disebut telah memperoleh persetujuan teknis dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Bahkan, PT BIBU telah memesan tiga unit pesawat amfibi N-219 untuk mendukung distribusi hasil laut dari sentra nelayan menuju pasar ekspor.

“Ikan, rumput laut, dan hasil budidaya harus bisa terhubung langsung dengan pasar global. Infrastruktur udara harus memberi manfaat langsung bagi rakyat,” ujarnya.

Rektor Universitas Mataram, Prof. Dr. Sukardi, menilai pendekatan pembangunan yang dipaparkan PT BIBU menarik karena menghadirkan keseimbangan antara investasi, keberlanjutan sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

“Pembangunan masa depan membutuhkan keseimbangan antara investasi, keberlanjutan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Perspektif seperti ini penting dipelajari mahasiswa,” kata Sukardi.
Di akhir kuliah umum, Erwanto kembali menegaskan bahwa investasi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

“Kalau sebuah investasi hanya membuat perusahaan tumbuh, itu biasa. Tapi kalau investasi membuat masyarakat ikut tumbuh, itu baru memiliki arti,” katanya.

Editor Ray