Muharram dan Pencarian Makna Kesempurnaan, Akhlak Dinilai Jadi Kemuliaan Sejati Manusia
DENPASAR - Memasuki Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, refleksi tentang makna kehidupan dan hakikat kemuliaan manusia kembali mengemuka. Di tengah kehidupan modern yang sarat persaingan, pencarian kesempurnaan sering kali diarahkan pada aspek fisik, kekayaan, maupun status sosial. Namun, sejumlah pemikir dan ajaran agama menegaskan bahwa ukuran kemuliaan sejati justru terletak pada kualitas akhlak.
Dalam sebuah refleksi yang disampaikan Masrur Makmur La Tanro, manusia disebut sebagai makhluk yang penuh paradoks. Di satu sisi, manusia bekerja keras mengorbankan kesehatan demi mengejar materi, tetapi di sisi lain harus menghabiskan materi untuk memulihkan kesehatan yang telah hilang. Kekhawatiran terhadap masa depan juga sering membuat manusia lupa menikmati dan mengisi masa kini dengan pengalaman yang bermakna.
Baginda Rasulullah menegaskan tolok ukur kemuliaan tersebut dalam sabdanya:
ุฃูููุง ุฃูุฎูุจูุฑูููู
ู ุจูุฎูููุฑูููู
ู ู
ููู ุดูุฑููููู
ู
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang terbaik di antara kalian dan orang yang terburuk di antara kalian?”
Lanjut sabda Beliau:
ุฎูููุฑูููู
ู ู
ููู ููุฑูุฌูู ุฎูููุฑููู ููููุคูู
ููู ุดูุฑููููุ ููุดูุฑููููู
ู ู
ููู ููุง ููุฑูุฌูู
ุฎูููุฑููู ููููุง ููุคูู
ููู ุดูุฑูููู
Fenomena lain yang kerap terjadi adalah kebanggaan terhadap hal-hal yang sesungguhnya bukan hasil usaha pribadi, seperti ketampanan, kecantikan, keturunan, maupun status sosial. Padahal, seluruh atribut tersebut merupakan anugerah yang bersifat sementara dan akan memudar seiring perjalanan waktu.
Menurutnya, kebanggaan yang lebih bernilai adalah sesuatu yang dibangun melalui perjuangan, pengorbanan, dan pembentukan karakter. Dalam perspektif Islam, hal tersebut diwujudkan melalui akhlak yang baik.
Pandangan itu sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang kebaikannya diharapkan dan keburukannya tidak membahayakan orang lain. Sebaliknya, manusia terburuk adalah mereka yang tidak menghadirkan manfaat dan justru menimbulkan keresahan bagi lingkungan sekitarnya.
Pemikiran serupa juga pernah disampaikan sastrawan Khalil Gibran yang menyatakan bahwa keindahan sejati tidak terletak pada wajah, melainkan cahaya yang terpancar dari hati. Pesan tersebut menegaskan bahwa kecantikan fisik bersifat sementara, sedangkan kemuliaan karakter memiliki nilai yang lebih abadi.
Di era digital saat ini, tantangan menjaga nilai-nilai kemanusiaan semakin besar. Sejarawan dan futuris dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century mengingatkan bahwa perkembangan teknologi yang sangat cepat justru menjadikan empati, kasih sayang, dan etika sebagai nilai yang semakin langka sekaligus semakin berharga.
Ketika interaksi manusia semakin banyak dimediasi teknologi dan algoritma, akhlak dipandang sebagai kompas moral yang menjaga manusia tetap berada pada jalur kemanusiaannya.
Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah pun menjadi pengingat bahwa kesempurnaan yang selama ini dicari tidak selalu berada pada wajah, harta, atau kedudukan. Kesempurnaan sejati justru tumbuh dari kebajikan yang ditanam dan dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pergantian tahun baru Hijriah tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga kesempatan untuk melakukan introspeksi dan memperkuat karakter, sehingga manusia dapat menghadirkan manfaat bagi sesama serta meraih kemuliaan yang hakiki.
Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah.
Editor - Ray


