PSN Denpasar Kupas Filosofi Dewa Yadnya Lewat Seminar Pemendakan dan Pedatengan
DENPASAR – Upaya memperdalam pemahaman spiritual berbasis kearifan lokal kembali digaungkan oleh Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Koordinator Daerah Kota Denpasar melalui seminar bertajuk Upacara Dewa Yadnya, Pemendakan dan Pedatengan, yang digelar Minggu (26/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Shanti Graha, Jalan PB Sudirman, Denpasar ini mengangkat tema “Widya Sastra Parama Guna”, yang menekankan pentingnya mempelajari sastra sebagai jalan mulia dan bermanfaat dalam kehidupan.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten di bidang spiritual dan sastra Hindu, yakni Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda, Ida Bhagawan Agra Sagening, Komang Indra Wirawan, serta I Made Surada. Diskusi dipandu oleh I Wayan Dodi Arianta sebagai moderator.
Peserta diajak menggali makna mendalam dari prosesi pemendakan dan pedatengan dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya—ritual yang selama ini kerap dijalankan secara turun-temurun, namun belum sepenuhnya dipahami dari sisi filosofisnya.

Ketua PSN Kota Denpasar, Nyoman Yasantara, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak bertujuan menyeragamkan praktik ritual, melainkan memperkuat pemahaman sesuai dengan lokacara dan desa dresta atau tradisi setempat.
“Kekhasan tiap daerah terlihat dari perbedaan tata urutan prosesi, jenis sesajen, hingga tarian sakral sebagai media penyambutan maupun perpisahan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perbedaan tersebut bukanlah penyimpangan, melainkan kekayaan intelektual spiritual warisan leluhur yang menjaga keberlangsungan tradisi.

Dalam pemaparannya, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda menjelaskan bahwa hakikat Dewa Yadnya berangkat dari konsep teologi Hindu, yakni peralihan dari Nirguna Brahman—Tuhan yang tak berwujud—menuju Saguna Brahman yang dapat dipahami melalui simbol dan ritual.
“Upacara pujawali menjadi jembatan spiritual untuk menghadirkan yang tak terwujud ke dalam bentuk yang bisa dipahami manusia,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, AA Ketut Adi Artha, mengungkapkan bahwa seminar diikuti hampir 300 peserta dari 36 desa adat di Kota Denpasar. Jumlah tersebut bahkan melampaui target awal.
“Kami sempat kekurangan kursi karena antusiasme peserta sangat tinggi,” ungkapnya.
Mayoritas peserta merupakan para pemangku desa adat yang memiliki peran penting dalam pelaksanaan upacara keagamaan di masyarakat. Tingginya partisipasi ini menunjukkan meningkatnya kesadaran untuk memahami makna di balik setiap ritual, tidak sekadar menjalankannya secara seremonial.
Seminar ini juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Peserta diajak untuk tidak hanya fokus pada aktivitas lahiriah, tetapi juga menyelami dimensi batin melalui ajaran para Rsi dan leluhur sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan.

Kegiatan yang bersifat terbuka dengan sistem punia seikhlasnya ini diharapkan mampu mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih memahami nilai filosofis dalam setiap pelaksanaan yadnya. Dengan demikian, tradisi tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarana peningkatan kesadaran spiritual dan kualitas hidup.
Editor - Ray


