Bali Menuju Energi Bersih 2045, IESR Ajak Jurnalis Bahas Ketahanan Listrik Berbasis Energi Terbarukan

Bali Menuju Energi Bersih 2045, IESR Ajak Jurnalis Bahas Ketahanan Listrik Berbasis Energi Terbarukan
Prof. Ida Ayu Giriantari memaparkan kondisi dan ketahanan sistem listrik Bali dalam implementasi Bali NZE 2045.

DENPASAR – Upaya mendorong kemandirian energi sekaligus memperkuat ketahanan sistem kelistrikan di Bali terus digencarkan. Melalui diskusi bersama para jurnalis, Institute for Essential Services Reform (IESR) mengajak berbagai pemangku kepentingan membahas peran energi terbarukan dalam mendukung target Bali mencapai emisi nol bersih atau Net Zero Emissions (NZE) pada 2045.

Kegiatan bertajuk “Diskusi Jurnalis Mendorong Kemandirian Energi Bali: Peran Energi Terbarukan dalam Memperkuat Ketahanan Sistem Ketenagalistrikan di Provinsi Bali” ini digelar pada Kamis (12/3/2026) di Denpasar. 

Diskusi tersebut merupakan bagian dari inisiatif Koalisi Bali Emisi Nol Bersih yang mendorong transformasi sistem energi dan ekonomi Bali menuju pemanfaatan energi bersih secara penuh.

Direktur Climate and Just Energy Transition IESR, Agus Praditya Tampubolon, mengatakan ketahanan energi menjadi fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan di Bali, terutama karena perekonomian daerah ini sangat bergantung pada sektor pariwisata.

Menurutnya, Bali memiliki visi besar untuk mencapai Bali NZE 2045 sehingga penguatan sistem kelistrikan berbasis energi bersih harus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak.

“Provinsi Bali memiliki potensi energi terbarukan yang cukup besar, khususnya energi surya. Pemanfaatan potensi ini dapat memperkuat sistem energi lokal melalui pendekatan desentralisasi, pengembangan PLTS atap, serta integrasi sistem yang lebih fleksibel dan tangguh,” ujarnya.

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ketua Center of Excellence Community Based Renewable Energy (CORE) Universitas Udayana, Ida Ayu Giriantari, yang memaparkan kondisi dan ketahanan sistem listrik Bali dalam implementasi Bali NZE 2045.

Selain itu, analis sistem ketenagalistrikan dan energi terbarukan IESR, Alvin Putra Sisdwinugraha, menjelaskan peran pengembangan sistem microgrid sebagai salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan energi di Bali.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, memaparkan peran pemerintah daerah dalam mendorong implementasi energi terbarukan, khususnya pada sektor swasta.

Dalam kajian yang dilakukan IESR, sistem kelistrikan Bali saat ini masih didominasi oleh energi fosil. Pada 2024, kapasitas suplai listrik Bali tercatat sekitar 1.461 megawatt (MW), dengan pembangkit utama berasal dari PLTU batubara di PLTU Celukan Bawang sebesar 380 MW, pembangkit gas sekitar 688 MW, serta pembangkit diesel sekitar 50 MW.

Selain itu, Bali juga masih bergantung pada pasokan listrik dari Pulau Jawa melalui kabel laut dengan kapasitas sekitar 340 MW. Ketergantungan tersebut dinilai membuat sistem kelistrikan Bali rentan terhadap gangguan pasokan maupun kerusakan infrastruktur.

Di sisi lain, Bali memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Potensi tersebut mencakup energi surya lebih dari 6 gigawatt (GW), energi angin darat dan lepas pantai, panas bumi sekitar 127 MW, biomassa sekitar 90 MW, mini hidro sekitar 31,3 MW, serta potensi waste-to-energy sekitar 59 MW.

Pengembangan sistem microgrid dinilai dapat menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan energi Bali karena memungkinkan berbagai sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, biomassa hingga baterai penyimpanan energi—terintegrasi dalam satu jaringan listrik lokal.

Dalam peta jalan Bali NZE 2045, transformasi sistem energi dirancang melalui empat fase utama. Pada fase pertama periode 2025–2029, pembangunan energi terbarukan ditargetkan mencapai sekitar 1,5 GW dengan potensi penurunan emisi hingga 2,8 juta ton CO₂ serta kebutuhan investasi sekitar USD 5,8 miliar.

Fase konsolidasi pada 2030–2034 menargetkan tambahan kapasitas energi terbarukan sekitar 1,4 GW dengan sistem penyimpanan energi sebesar 400 megawatt hour (MWh). Selanjutnya pada fase pertumbuhan mandiri 2035–2039, kapasitas pembangkit energi terbarukan kembali ditambah hingga 1,24 GW dengan potensi penurunan emisi mencapai 9 juta ton CO₂.

Sementara pada fase terakhir 2040–2045, Bali ditargetkan mampu mencapai 100 persen energi terbarukan dengan total tambahan kapasitas hingga 17 GW serta sistem penyimpanan energi mencapai 54 gigawatt hour (GWh). Investasi yang dibutuhkan pada tahap ini diperkirakan mencapai USD 35 miliar.

Melalui transformasi tersebut, Bali diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi daerah, tetapi juga menjadi model pulau dengan sistem energi berkelanjutan yang tangguh sekaligus mendukung citra Bali sebagai destinasi pariwisata ramah lingkungan di tingkat global.

Diskusi ini turut dihadiri sejumlah organisasi profesi media, antara lain Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Bali, serta Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Bali.

Melalui keterlibatan media, IESR berharap informasi mengenai upaya percepatan transisi energi di Bali dapat tersampaikan secara luas dan akurat kepada masyarakat.

Editor - Ray