Royal Ambarrukmo Raup Minat Buyer Internasional di BBTF 2026, Wisata Gastronomi Yogyakarta Jadi Daya Tarik

Royal Ambarrukmo Raup Minat Buyer Internasional di BBTF 2026, Wisata Gastronomi Yogyakarta Jadi Daya Tarik
Maya Dewi (Director of Sales and Marketing) kanan.

BALI – Di tengah prediksi melambatnya nilai transaksi industri pariwisata pada ajang Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta justru mencatat capaian positif dengan tingginya minat buyer internasional terhadap produk wisata yang ditawarkannya.

Partisipasi hotel bersejarah asal Yogyakarta tersebut menjadi salah satu sorotan dalam pameran pariwisata terbesar di Indonesia yang berlangsung di Bali International Convention Center. Mengusung kekuatan budaya dan gastronomi khas Yogyakarta, Royal Ambarrukmo berhasil menarik puluhan buyer dari berbagai negara sejak hari pertama penyelenggaraan.

Ketua Panitia BBTF 2026, Putu Winastra, mengungkapkan jumlah buyer dan exhibitor tahun ini berhasil melampaui target panitia. Namun demikian, nilai transaksi bisnis diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya karena masih didominasi wisatawan dari pasar jarak dekat atau short haul.

“Jumlah buyer dan exhibitor melampaui target. Namun nilai transaksi tahun ini diperkirakan turun karena masih didominasi pasar wisatawan short haul atau jarak dekat,” ujar Putu Winastra yang juga menjabat Ketua ASITA Bali.

Di tengah kondisi tersebut, Royal Ambarrukmo mampu menunjukkan performa yang menjanjikan. Director of Sales and Marketing Royal Ambarrukmo, Maya Dewi, mengatakan respons buyer terhadap berbagai paket wisata dan pengalaman budaya yang ditawarkan sangat tinggi.

Menurutnya, dari sekitar 20 agenda pertemuan yang dijadwalkan pada hari pertama, jumlah buyer yang hadir mencapai dua kali lipat lebih banyak.

“Sejak hari pertama, kami bertemu banyak buyer baru yang potensial. Dari sekitar 20 appointment yang dijadwalkan, realisasinya mencapai 40 buyer yang datang langsung ke booth Royal Ambarrukmo. Mereka berasal dari Asia, Myanmar, Afrika Selatan, Eropa hingga Timur Tengah,” kata Maya.

Antusiasme serupa berlanjut pada hari kedua. Dari 20 pertemuan bisnis yang dijadwalkan, sebanyak 39 buyer hadir untuk menjajaki peluang kerja sama dengan hotel yang menjadi ikon perhotelan Yogyakarta tersebut.

“Buyer yang datang berasal dari Indonesia, Singapura, Eropa, dan sejumlah negara Asia lainnya. Kami melihat kualitas buyer tahun ini cukup potensial dan tata kelola penyelenggaraan BBTF 2026 juga berjalan sangat baik,” ujarnya.

Maya menilai meningkatnya ketertarikan buyer internasional tidak terlepas dari tren wisata berbasis pengalaman yang kini berkembang di berbagai negara. Salah satu sektor yang dinilai memiliki prospek besar adalah wisata gastronomi yang saat ini menjadi fokus pengembangan Kementerian Pariwisata.

Melalui konsep tersebut, kuliner tidak lagi sekadar menjadi pelengkap perjalanan wisata, melainkan bagian dari pengalaman budaya yang mencerminkan identitas, sejarah, dan tradisi suatu daerah.

Pemerintah sendiri tengah mendorong penguatan sektor ini melalui program Wonderful Indonesia Gourmet (WIG) yang bertujuan memperkenalkan restoran terbaik Indonesia sekaligus memperkuat posisi gastronomi nasional di pasar global.

Sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya dan kuliner, Yogyakarta dinilai memiliki modal kuat untuk memanfaatkan tren tersebut. Royal Ambarrukmo melihat BBTF sebagai momentum strategis untuk memperluas jaringan pasar internasional sekaligus memperkenalkan pengalaman autentik Yogyakarta kepada calon wisatawan mancanegara.

Menjelang penutupan BBTF 2026, pihak Royal Ambarrukmo berharap partisipasi buyer dari pasar long haul atau jarak jauh dapat semakin meningkat pada penyelenggaraan tahun depan.

“Harapan kami pada BBTF 2027 semakin banyak buyer dan tour operator dari pasar long haul sehingga potensi transaksi dan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dapat tumbuh lebih kuat,” pungkas Maya.

Editor - Ray