Superkonduktor Dinilai Jadi Solusi Efisiensi Listrik, Perkuat Target RUPTL PLN 2025–2034
Andika Widya Pramono merupakan Peneliti dan Praktisi Superkonduktor di Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ia juga merupakan Anggota Senat Akademik Institut Teknologi PLN Jakarta dan Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).
Denpasar – Indonesia tengah berada di titik krusial dalam transformasi sektor energi nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik akibat pertumbuhan ekonomi dan populasi, pemerintah juga menghadapi tekanan global untuk menekan emisi karbon serta mempercepat transisi menuju energi bersih.
Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PT PLN (Persero) menargetkan penambahan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) sebesar 42.569 megawatt (MW) dari total rencana pengembangan 69.512 MW. Namun demikian, tantangan efisiensi pada jaringan transmisi dan distribusi masih menjadi pekerjaan besar.
Peneliti dan praktisi superkonduktor dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Andika Widya Pramono, menilai teknologi superkonduktor dapat menjadi solusi strategis untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Kerugian energi dalam transmisi dan distribusi listrik masih cukup signifikan. Superkonduktor mampu menghantarkan listrik tanpa hambatan, sehingga efisiensi sistem meningkat drastis,” ujarnya.
Teknologi Minim Hambatan, Maksimalkan Energi
Superkonduktor merupakan material yang mampu mengalirkan listrik tanpa resistansi pada suhu tertentu. Sejak ditemukannya superkonduktor suhu tinggi pada 1986, teknologi ini terus berkembang, termasuk dukungan sistem pendingin modern seperti cryocooler berbasis sirkuit tertutup.
Jika sebelumnya teknologi ini bergantung pada helium cair yang mahal, kini penggunaan gas seperti nitrogen atau neon dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan. Dalam sistem kelistrikan, kabel superkonduktor memungkinkan penyaluran daya besar tanpa kehilangan energi, sekaligus meningkatkan stabilitas jaringan.
Teknologi ini juga dinilai relevan dalam mendukung integrasi pembangkit energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, yang membutuhkan sistem jaringan yang stabil dan efisien.
Perkuat Infrastruktur dan Strategi RUPTL
Selain pengembangan pembangkit, RUPTL PLN juga mencakup pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer, gardu induk berkapasitas 107.950 MVA, serta jaringan distribusi hampir 198 ribu kilometer.
Di sisi lain, PLN juga mengembangkan teknologi smart grid, battery energy storage system (BESS), dan green enabling transmission. Dalam konteks ini, superkonduktor dinilai mampu memperkuat seluruh infrastruktur tersebut dengan menekan rugi energi sekaligus meningkatkan kapasitas jaringan tanpa perlu ekspansi besar-besaran.
Dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik mencapai sekitar 5,3 persen per tahun, efisiensi menjadi faktor kunci untuk memastikan kapasitas pembangkit dapat dimanfaatkan secara optimal.
Peluang Industri Teknologi Tinggi
Indonesia juga memiliki potensi bahan baku superkonduktor dari mineral tanah jarang seperti lantanum dan yttrium. Kondisi ini membuka peluang pengembangan industri teknologi tinggi berbasis sumber daya dalam negeri.
Andika menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga riset untuk mempercepat penguasaan teknologi ini. Selain itu, dukungan kebijakan seperti insentif fiskal, carbon credit, dan feed-in tariff dinilai krusial untuk menarik investasi.
“Superkonduktor bukan hanya soal efisiensi energi, tetapi juga peluang besar bagi pengembangan industri masa depan,” katanya.
Sudah Teruji di Tingkat Global
Di tingkat global, teknologi superkonduktor telah diimplementasikan di sektor industri. Salah satunya di Jerman, di mana penggunaan busbar superkonduktor pada industri elektrolisis mampu menekan kehilangan energi hingga 90 persen.
Efisiensi serupa dinilai berpotensi diterapkan di Indonesia, khususnya pada sektor industri berat serta pengembangan energi terbarukan di wilayah terpencil, termasuk dalam upaya mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel.
Dorong Transisi Energi Bersih
Dengan target bauran energi bersih mencapai 34,3 persen pada 2034, pemanfaatan teknologi superkonduktor diyakini dapat mempercepat pencapaian target tersebut.
Investasi besar dalam pembangkit, jaringan, dan sistem penyimpanan energi akan menjadi lebih optimal jika didukung efisiensi tinggi pada sisi transmisi dan distribusi.
Kesimpulan
Teknologi superkonduktor dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi sistem kelistrikan nasional sekaligus mendukung target ambisius RUPTL PLN 2025–2034.
Dengan dukungan riset yang kuat, kebijakan yang tepat, serta investasi berkelanjutan, Indonesia berpeluang menjadi pionir dalam penerapan teknologi ini di kawasan Asia Tenggara. Integrasi superkonduktor tidak hanya mempercepat transisi energi bersih, tetapi juga membuka jalan bagi pertumbuhan industri teknologi tinggi di masa depan.
Editor - Vaz


