Bali Curi Start 15 Tahun, Wayan Koster Deklarasikan "Akhir Era" PLTU di Pulau Dewata, Menuju NZE 2045
DENPASAR – Di bawah terik matahari Sanur, sebuah pesan tegas disampaikan dari panggung Indonesia Solar Summit (ISS) 2026. Bukan sekadar janji politik, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmen Bali untuk meninggalkan ketergantungan pada energi fosil. Di hadapan para pemangku kepentingan sektor energi nasional, ia menegaskan satu hal: Bali tidak akan menunggu Jakarta.
"Kita harus mandiri. Ketergantungan pada bahan bakar fosil adalah beban yang harus kita lepaskan mulai sekarang," ujar Koster saat membuka Indonesia Solar Summit 2026 di Bali Beach Convention Center, The Meru Bali, Selasa (14/7).
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Sebagai destinasi pariwisata kelas dunia, Bali memiliki tantangan sekaligus kepentingan yang berbeda dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Udara bersih dan langit biru bukan lagi sekadar slogan, melainkan aset utama yang menopang industri pariwisata. Jika lingkungan rusak, wisatawan akan pergi. Jika wisatawan pergi, ekonomi Bali ikut terpukul.
Atas dasar itulah Koster menetapkan target Net Zero Emission (NZE) pada 2045, atau 15 tahun lebih cepat dibandingkan target nasional yang dipatok pada 2060.
Matahari Menjadi "Emas Baru" Bali
Strategi utamanya jelas, yakni mengoptimalkan energi surya. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tidak lagi diposisikan sebagai energi alternatif, melainkan sebagai tulang punggung sistem energi Bali di masa depan.
Melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam Pola Pembangunan Semesta Berencana, energi bersih ditempatkan sebagai fondasi pembangunan, bukan sekadar pelengkap.
Langkah ini tentu tidak mudah. Mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil di sebuah pulau dengan kebutuhan listrik yang fluktuatif mengikuti musim kunjungan wisatawan merupakan tantangan besar. Namun, Koster menilai transisi menuju energi bersih adalah investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan pariwisata Bali.
Melampaui Target Nasional
Keputusan Bali untuk "curi start" selama 15 tahun mengirimkan sinyal kuat kepada daerah lain di Indonesia. Bali ingin menjadi living laboratory atau laboratorium hidup bagi transisi energi nasional. Jika Bali mampu mencapai NZE pada 2045, maka daerah lain diharapkan dapat mengikuti jejak tersebut.
Di balik komitmen itu, tantangan teknis tetap besar, mulai dari penguatan jaringan listrik (grid), pengembangan sistem penyimpanan energi (battery storage), hingga perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan energi bersih. Namun, semangat yang ditunjukkan dalam ISS 2026 memperlihatkan bahwa Bali serius menjalankan agenda transisi energi.
Pada 2045 nanti, wisatawan mungkin tidak lagi menyadari bahwa listrik yang menerangi kamar hotel, menghidupkan pendingin ruangan di vila, hingga mengisi daya kendaraan listrik mereka berasal dari energi matahari. Bagi Wayan Koster, itulah warisan yang ingin diwujudkan: Bali yang tetap lestari, bukan hanya dalam cerita, tetapi juga melalui udara yang bersih dan lingkungan yang terjaga.
"Bali berani berbeda. Saat target nasional adalah 2060, Bali menargetkan selesai pada 2045. Sebuah langkah berani atau justru nekat? Waktu yang akan menjawab."
Saran kecil: judul akan terdengar lebih netral dan aman secara jurnalistik jika frasa "kematian PLTU" diganti menjadi "Akhir Era PLTU" atau "Tinggalkan Ketergantungan PLTU", kecuali memang Koster secara eksplisit menyatakan penghentian operasional seluruh PLTU di Bali.
Editor - Ray


