Tay Kak Sie Semarang, Kelenteng Tua yang Menjaga Jejak Sejarah dan Harmoni Pecinan
Berdiri sejak 1746, Tay Kak Sie menjadi cagar budaya sekaligus ruang hidup tradisi Tri Dharma di tengah kawasan Pecinan Semarang.
SEMARANG — Di tengah padatnya kawasan Pecinan Semarang, Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok tetap berdiri kokoh sebagai salah satu penanda penting perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa di Kota Semarang.
Bangunan yang didirikan pada 1746 itu bukan sekadar tempat ibadah. Tay Kak Sie telah melewati berbagai fase perkembangan kota dan hingga kini tetap menjadi ruang berlangsungnya kegiatan keagamaan, tradisi budaya serta perjumpaan masyarakat.

Data Pemerintah Kota Semarang mencatat Tay Kak Sie sebagai salah satu kelenteng tua di kawasan Pecinan. Sementara data kebudayaan pemerintah menetapkannya sebagai cagar budaya tingkat nasional melalui SK Nomor PM.57/PW.007/MKP/2010.
Sejarah Tay Kak Sie bermula dari sebuah kelenteng bernama Kwan Im Ting yang didirikan di kawasan Gang Belakang pada 1746 oleh Kho Ping dan Tan Lik. Kelenteng tersebut awalnya digunakan untuk pemujaan Dewi Kwan Im.
Seiring bertambahnya aktivitas umat, bangunan lama dinilai tidak lagi memadai. Pada 1771, kelenteng kemudian dipindahkan ke Gang Lombok dan menggunakan nama Tay Kak Sie yang berarti “Kuil Kesadaran Agung”. Catatan sejarah kebudayaan juga menyebut kelenteng ini mengalami sejumlah pemugaran besar, antara lain pada 1845, 1890 dan 1956.
Kepala Sekretariat Kelenteng Tay Kak Sie, Andre Wahyudi, menjelaskan pemindahan tersebut dilakukan karena lokasi sebelumnya dianggap terlalu sempit untuk menampung kegiatan peribadatan.

“Dilihat dari feng shui, dari geografisnya cukup memadai maka dipindahkanlah ke sini,” ujar Andre.
Menurut dia, nama Tay Kak Sie berkaitan dengan latar belakang Buddhisme Mahayana yang menjadi bagian penting dalam sejarah kelenteng tersebut.
“Kuil ini jelas ada Tri Ratna Buddha, karena pada dasarnya adalah Kuil Buddhis, berarti ada Buddha masa lalu, masa sekarang, dan masa depan,” katanya.
Dalam perkembangannya, Tay Kak Sie kemudian menjadi bagian dari tradisi Tri Dharma yang mencakup Buddhisme, Kong Hu Cu dan Taoisme. Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah menyebut keberadaan Tay Kak Sie memiliki nilai penting dalam perjalanan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Semarang.
Kehadiran kelenteng tersebut juga memperlihatkan bagaimana kawasan Pecinan Semarang berkembang sebagai ruang pertemuan berbagai latar budaya. Arsitektur tradisional Tionghoa, ornamen keagamaan, altar dan berbagai ritual yang berlangsung di dalamnya menjadi bagian dari lanskap sejarah kota.
Pemerintah Kota Semarang mencatat Tay Kak Sie memiliki 29 altar pemujaan dan menjadi salah satu destinasi wisata religi yang dikenal luas. Bangunan tersebut juga menjadi salah satu daya tarik budaya karena mempertahankan karakter arsitektur Tionghoa yang kuat.
Aktivitas budaya di Tay Kak Sie terus berlangsung hingga sekarang. Salah satunya terlihat dalam berbagai tradisi keagamaan menjelang perayaan Imlek. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat adanya tradisi Siang Sin Giu Hokri yang dilakukan untuk mengantarkan dewa-dewi ke kayangan.

Tay Kak Sie juga menjadi titik penting dalam sejumlah kegiatan budaya yang menghubungkan kawasan Pecinan dengan tempat bersejarah lain di Semarang. Festival Arak-arakan Cheng Ho, misalnya, pernah mengambil titik awal dari Tay Kak Sie di Gang Lombok sebelum bergerak menuju Klenteng Sam Poo Kong.
Ketua Umum Yayasan Tay Kak Sie, Tanto Hermawan, menilai antusiasme masyarakat terhadap kegiatan budaya tersebut terus berkembang.
“Tahun ini terlihat lebih meriah, mulai dari rombongan Sapu Jaga, Bhe Kun, hingga umat yang berpartisipasi, semuanya jauh lebih banyak daripada tahun lalu,” ujar Tanto.
Bagi Semarang, keberadaan Tay Kak Sie memiliki arti lebih luas dari sekadar bangunan keagamaan. Kelenteng ini menjadi salah satu bukti bahwa sejarah perkotaan dibentuk oleh perjumpaan berbagai komunitas, tradisi dan kebudayaan yang hidup berdampingan.
Nilai tersebut juga menjadi perhatian dalam peringatan 275 tahun Tay Kak Sie. Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah menyebut dokumentasi sejarah kelenteng dapat menjadi referensi untuk membangun sikap keberagamaan yang moderat dan toleran.
“Kami berharap buku ini menjadi salah satu sumber referensi, sehingga masyarakat dapat membangun sikap moderasi beragama agar lebih toleran dan moderat dalam menjalankan ajaran agama,” ujar Wahid Arbani, yang saat itu menjabat Kabag TU Kanwil Kemenag Jawa Tengah.
Kini, setelah hampir tiga abad perjalanan sejarah, Tay Kak Sie tetap mempertahankan fungsinya sebagai tempat ibadah sekaligus ruang pelestarian tradisi. Aktivitas keagamaan berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat dan aktivitas wisata di kawasan Pecinan.
Keberadaan kelenteng ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan hanya tentang bangunan tua yang dipertahankan secara fisik. Di dalamnya terdapat ingatan kolektif, tradisi, nilai keagamaan dan perjalanan masyarakat yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tay Kak Sie pada akhirnya menjadi salah satu wajah sejarah Pecinan Semarang yang masih hidup. Di antara warna merah bangunan, aroma dupa dan aktivitas masyarakat, jejak hampir tiga abad sejarah tetap terawat sekaligus menjadi bagian dari identitas keberagaman Kota Semarang.
Editor - Ray


