Ngababurit! Jejak Tradisi Menyambut Senja di Bulan Suci

Ngababurit! Jejak Tradisi Menyambut Senja di Bulan Suci
Ngabuburit

“Menanti Magrib, Menyulam Makna, Menguatkan Iman.”

DENPASAR - Kata Ngababurit berasal dari bahasa Sunda, yang populer di wilayah Jawa Barat. Secara etimologis, kata ini berakar dari kata “burit” yang berarti sore atau waktu menjelang senja. Awalan “nga-” dalam bahasa Sunda bermakna melakukan suatu aktivitas. Maka, ngababurit dapat dimaknai sebagai kegiatan mengisi waktu sore hari, khususnya menjelang azan Magrib saat bulan Ramadan.

Tradisi ini sangat identik dengan masyarakat Sunda di kota-kota seperti Bandung dan Cirebon, namun kini telah menyebar dan menjadi istilah populer secara nasional. Di berbagai daerah, meski dengan istilah berbeda, esensinya sama: mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan.

Makna Filosofis Ngababurit

Ngababurit bukan sekadar “menunggu waktu berbuka”. Ia memiliki makna sosial, spiritual, dan kultural yang mendalam:

Refleksi Spiritual

Menjelang senja adalah waktu yang syahdu. Banyak umat Muslim memanfaatkannya untuk membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau mengikuti kajian ringan di masjid.

Mempererat Silaturahmi

Tradisi ini juga menjadi momen kebersamaan—berkumpul bersama keluarga, sahabat, atau masyarakat di ruang terbuka, sembari berburu takjil.

Ekspresi Budaya dan Kreativitas

Di berbagai daerah, ngababurit diisi dengan kegiatan seni, permainan tradisional, hingga aktivitas sosial seperti berbagi makanan kepada sesama.

Ngababurit dalam Narasi Ramadan

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang perjalanan batin menuju ketakwaan. Dalam rentang waktu dari Subuh hingga Magrib, ada satu momen yang selalu dinanti—detik-detik menjelang berbuka. Di situlah ngababurit menjadi jembatan antara kesabaran dan rasa syukur.

Langit senja yang berwarna jingga seakan menjadi saksi bisu doa-doa yang dipanjatkan. Anak-anak berlarian di pelataran masjid, para pedagang takjil tersenyum menyambut pembeli, dan keluarga berkumpul menanti azan berkumandang. Ngababurit menghadirkan suasana hangat—perpaduan antara tradisi, kebersamaan, dan nilai ibadah.

Di tengah dinamika zaman modern, makna ngababurit tetap relevan: mengisi waktu dengan hal yang bermakna, menjaga hati tetap sabar, dan menyambut berbuka dengan penuh rasa syukur.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang berbuka puasa, tetapi tentang membuka hati.

Editor - Ray