Banyu Pinaruh di Sanur, Lintas Agama Bersatu dalam Semangat Tri Hita Karana

Penglukatan Agung Banyu Pinaruh di Pantai Mertasari, Sanur, diikuti sekitar 2.000 pemedek dan dipuput tujuh sulinggih. Tradisi penyucian diri ini juga menghadirkan umat lintas agama, membawa pesan tentang makna pengetahuan, keharmonisan, dan toleransi dalam keberagaman.

Banyu Pinaruh di Sanur, Lintas Agama Bersatu dalam Semangat Tri Hita Karana
Kehadiran Tokoh Nasional Perkuat Pesan Kebersamaan dalam Tradisi Banyu Pinaruh.

DENPASAR – Anggota DPR RI asal Bali, I Nyoman Parta atau yang akrab disapa Man Parta, turut hadir dalam Upacara Penglukatan Agung Banyu Pinaruh yang diselenggarakan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil Bali di Pantai Mertasari, Sanur, Minggu, 1 November 2026.

Kehadiran Man Parta menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan keagamaan dan budaya tersebut. Di tengah pelaksanaan ritual penyucian diri umat Hindu setelah Hari Raya Saraswati, kegiatan ini juga memperlihatkan semangat kebersamaan melalui keterlibatan masyarakat lintas agama dan kepercayaan.

Man Parta merupakan anggota DPR RI Daerah Pemilihan Bali periode 2024–2029 yang bertugas di Komisi III DPR RI serta Badan Legislasi (Baleg) DPR RI. Penugasannya di Komisi III berkaitan dengan bidang penegakan hukum, sedangkan Baleg menjalankan fungsi legislasi. 

Kehadirannya berlangsung dalam kegiatan yang mengangkat nilai spiritual, budaya, dan persaudaraan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Bali yang beragam.

Kehadiran Tokoh Nasional Perkuat Pesan Kebersamaan dalam Tradisi Banyu Pinaruh

Penglukatan Agung Banyu Pinaruh merupakan kegiatan tahunan PSN Korwil Bali yang dimaknai sebagai upaya penyucian diri secara lahir dan batin. Banyu Pinaruh sendiri berkaitan dengan penggunaan air sebagai sarana penyucian setelah umat menerima pengetahuan pada Hari Raya Saraswati.

Ketua Panitia, Jro Gede Made Wirawan, menyampaikan bahwa pelaksanaan tahun ini diperkirakan diikuti sekitar 2.000 pemedek dan dipuput oleh tujuh sulinggih.

"Pelaksanaan tahun ini diikuti kurang lebih 2.000 pemedek dan dipuput oleh tujuh sulinggih," ujarnya.

Jro Mangku I Wayan Dodi Arianta

Ketua PSN Korwil Bali, Jro Mangku I Wayan Dodi Arianta, menjelaskan bahwa penglukatan tidak sekadar dimaknai sebagai kegiatan membersihkan tubuh menggunakan air, tetapi juga sebagai momentum introspeksi untuk menghilangkan sifat-sifat negatif dan meningkatkan kualitas moralitas.

Kegiatan tersebut menghadirkan tujuh jenis penglukatan, yakni Gangga, Siwa Baruna, Wisnu Panjara, Siwa Gni, Budha, Wana Gamana, dan Marga Gamana.

Salah satu hal yang menonjol dalam kegiatan ini adalah keterlibatan peserta lintas agama. Deddy, peserta beragama Islam, menyampaikan penghargaan terhadap nilai kebersamaan yang tercermin dalam kegiatan tersebut.

Deddy selaku Pemedek lintas agama (Islam) 

"Kami dari lintas agama mengakui dan menghargai bagaimana kedekatan manusia dengan alam, manusia dengan Tuhannya, bahkan manusia dengan manusianya," ungkapnya.

Kehadiran peserta dengan latar belakang keyakinan berbeda memperlihatkan bahwa penghormatan terhadap tradisi dan budaya dapat berjalan berdampingan dengan keberagaman.

Jero Gede Iwan, anggota PSN

Sementara itu, Jero Gede Iwan, anggota PSN sekaligus pemedek, menegaskan bahwa penglukatan merupakan proses pembersihan jiwa dan raga yang dapat diikuti siapa pun sepanjang memiliki keyakinan dan menghormati pelaksanaan ritual.

Menurutnya, sarana upacara seperti banten bukan sekadar perlengkapan, melainkan bagian dari simbol dan bentuk penghormatan dalam pelaksanaan persembahyangan. 

Ia juga mengingatkan masyarakat agar menjadikan kegiatan spiritual sebagai kesempatan memperbaiki perilaku dan menyeimbangkan perbuatan dalam kehidupan.

Jro Gde A Korry Agung

Sekretaris penyelenggara, Jro Gde A Korry Agung, turut menjelaskan rangkaian penglukatan yang menjadi bagian utama dari upacara tersebut.

Kegiatan ini terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya dan tidak memerlukan pendaftaran. Peserta diimbau mengenakan pakaian sembahyang serta membawa sarana persembahyangan berupa pejati atau canang sari.

Melalui kegiatan ini, PSN Korwil Bali tidak hanya menjalankan tradisi spiritual Banyu Pinaruh, tetapi juga membuka ruang interaksi sosial yang menjunjung toleransi dan persaudaraan. Kehadiran Man Parta bersama masyarakat dan tokoh lainnya turut mewarnai pelaksanaan upacara yang berlangsung di Pantai Mertasari tersebut.

Editor - Ray