Tak Tega Masyarakat Bali Kepanasan, Ketut Sudiarsa Bagikan 1.000 Nasi Bungkus untuk Warga yang Antre BBM 

Kepedulian di Tengah Antrean Panjang, Tokoh Pariwisata Bali Desak Gubernur dan Jajarannya Turun Langsung Mengatasi Distribusi BBM

Tak Tega Masyarakat Bali Kepanasan, Ketut Sudiarsa Bagikan 1.000 Nasi Bungkus untuk Warga yang Antre BBM 
Ketut Sudiarsa SE, SH, MH., bagikan nasi bungkus kepada pengantre BBM.

DENPASAR – Di tengah antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) yang menguras waktu dan tenaga masyarakat di Bali, tokoh pariwisata Ketut Sudiarsa, S.E., S.H., M.H., turun langsung membagikan 1.000 nasi bungkus dan 30 dus air mineral kepada warga yang menunggu giliran mengisi BBM di kawasan Renon, Denpasar, Rabu (14/10/2026).

Aksi kemanusiaan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang harus bertahan di tengah cuaca panas dan ketidakpastian pasokan BBM. Bantuan makanan dan air mineral itu diharapkan dapat meringankan beban warga yang mengantre selama berjam-jam.

Antrean kendaraan akibat sulitnya mendapatkan BBM terlihat mengular di sejumlah titik di kawasan Renon. Situasi ini turut berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama pekerja harian, buruh serabutan, dan pengemudi ojek online (ojol) yang terpaksa mengorbankan waktu produktif demi memperoleh bahan bakar.

Bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas kendaraan, antrean panjang bukan sekadar persoalan waktu. Kondisi tersebut juga berpotensi mengurangi pendapatan harian dan menghambat pemenuhan kebutuhan keluarga.

Ketut Sudiarsa mengaku prihatin melihat langsung kesulitan yang dialami masyarakat. Ia menilai warga membutuhkan perhatian nyata agar tidak terus menanggung dampak persoalan distribusi BBM.

“Saya berharap rakyat Bali mendapatkan perhatian dan keadilan. Saya melihat sendiri bagaimana masyarakat kepanasan, kehausan, bahkan kehilangan waktu untuk bekerja karena harus mengantre BBM hanya demi mendapatkan dua atau tiga liter bahan bakar,” ujar Sudiarsa.

Menurut dia, persoalan antrean BBM perlu segera ditangani melalui langkah konkret, terutama apabila kendala utama berada pada distribusi pasokan menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Ia menyinggung pernyataan Gubernur Bali yang disampaikan melalui media mengenai ketersediaan stok BBM di Pertamina Serangan dan Pertamina Manggis yang disebut masih mencukupi, sementara kendala distribusi dan kemacetan pengiriman menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran pasokan.

“Jika persoalannya ada pada distribusi, saya berharap dapat dipertimbangkan langkah-langkah yang tepat, termasuk pengaturan distribusi pada malam hari, agar pasokan BBM bisa segera menjangkau seluruh SPBU,” katanya.

Sudiarsa menegaskan, pembagian makanan dan air mineral tersebut bukan untuk mencari popularitas maupun kepentingan politik. Ia menyebut langkah itu murni berangkat dari dorongan kemanusiaan setelah melihat kondisi masyarakat secara langsung.

“Saya bukan siapa-siapa dan tidak menginginkan popularitas atau suara. Hanya hati nurani yang tergerak untuk membantu meringankan beban masyarakat Bali yang sedang mengalami kesulitan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, keputusan membagikan 1.000 nasi bungkus dan 30 dus air mineral muncul dari keprihatinannya terhadap warga yang harus menunggu lama di tengah cuaca terik tanpa kepastian kapan bisa mendapatkan BBM.

“Saya merasakan sendiri betapa beratnya situasi ini, terlebih ketika masyarakat harus bertahan di tengah cuaca panas dan ketidakpastian mendapatkan bahan bakar. Karena itu, saya berinisiatif membagikan makanan dan air mineral agar mereka sedikit terbantu,” ungkapnya.

Pengalaman menghadapi antrean BBM, lanjut Sudiarsa, bukan kali pertama ia temui. Ia mengaku pernah menyaksikan antrean kendaraan mencapai tiga hingga lima kilometer di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan, di Balikpapan, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri minyak nasional, antrean disebut mencapai sekitar dua kilometer.

“Saya sendiri pernah mengalami kehabisan BBM saat mengemudikan kendaraan di tengah situasi seperti ini. Karena itu, saya memahami bagaimana sulitnya masyarakat ketika pasokan bahan bakar tidak mudah diperoleh,” tuturnya.

Sudiarsa juga meminta Gubernur Bali Wayan Koster beserta jajaran terkait turun langsung melihat kondisi di lapangan. Menurutnya, kehadiran pemerintah diperlukan untuk memastikan masyarakat mendapatkan bantuan sekaligus mempercepat penyelesaian persoalan distribusi BBM.

“Saya memohon kepada Bapak Gubernur Bali Wayan Koster dan seluruh jajarannya agar turun langsung ke SPBU, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta segera menyelesaikan persoalan distribusi BBM,” katanya.

Ia berharap pemerintah bersama pihak terkait segera mengambil langkah efektif agar antrean panjang tidak terus mengganggu kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat terus menanggung penderitaan akibat kondisi ini. Semoga persoalan ini segera teratasi dan masyarakat Bali bisa kembali beraktivitas dengan normal,” pungkas Sudiarsa.

Aksi berbagi tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah persoalan kebutuhan dasar masyarakat, kepedulian sosial perlu berjalan beriringan dengan langkah nyata pemerintah untuk memastikan distribusi BBM berlangsung lancar dan kebutuhan warga terpenuhi.

Editor: Ray