Toleransi dan Keimanan, Pesan Man Tayax dari Pemikiran Buya Hamka

Toleransi dan Keimanan, Pesan Man Tayax dari Pemikiran Buya Hamka
Tokoh masyarakat I Nyoman Sukataya, SH (Man Tayax).

DENPASAR - Seorang tokoh masyarakat I Nyoman Sukataya, SH (Man Tayax) juga kesemsem dengan pandangan seorang Buya Hamka. Buya Hamka memiliki berbagai pemikiran, di antaranya tentang pendidikan, tasawuf, politik, dan hubungan agama dan negara. 

Man Tayax mengutip pemikiran seorang Buya Hamka yang sungguh mengilhami dirinya, sebagai orang yang berbeda keyakinan dalam melihat kasat mata fenomena yang real terjadi di masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah pemeluk agama Islam. 

Ia mengatakan makna mendalam tentang perbedaan antara identitas keislaman secara formal dan tingkat keimanan seseorang. 

"Saya tidak membahas soal Hari Raya Idul Adha dimana banyak orang berebut daging qurban atau banyak tokoh tampil menyumbang hewan qurban untuk dukungan dan pengaruh pengakuan"

"Yang saya cermati adalah sebuah rangkaian ritus keagamaan yang berujung akhir nikmat pada perayaan Hari Raya Idul Fitri sebagai momen di mana hampir semua umat Islam berkumpul, merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, dan menunjukkan identitas keislamannya secara terbuka, " Ungkapnya, Kamis (03/04/2025). 

Namun dikatakannya sejatinya sesungguhnya keimanan yang sejati terlihat dari konsistensi dalam ibadah sehari-hari, terutama dalam hal yang tidak banyak disaksikan orang lain, seperti shalat subuh di masjid atau keseriusan tadarussan yang khusyuk saat malam lailatul qadar.

"Bagi saya salah satu cerminan yang saya lihat adalah shalat subuh menjadi tolok ukur keimanan karena dilakukan di waktu yang sulit, saat kebanyakan orang masih terlelap atau yang tekun membaca Al Quran dengan tadarussan dan berbuat baik pada saat lailatul qadar yang melipat gandakan pahala disaat yang lainnya menikmati makanan enak berlebihan, minum atau ngopi dan merokok sepuasnya setelah seharian berpuasa"

Orang yang tetap menjaga ibadahnya di saat tidak ada kemeriahan dan perhatian dari orang lain menunjukkan bahwa keimanannya bukan sekadar identitas, tetapi bagian dari kehidupannya yang sesungguhnya, dia pengamal dari apa yang diyakininya.

"Dalam hal cara pandang meskipun saya berbeda keyakinan dan tidak ada bermaksud lain kecuali tujuan saya adalah satu yakni mengajak kita untuk tidak hanya berpegang dan melihat pada simbol-simbol keislaman yang tampak di permukaan, tetapi juga memperdalam iman melalui ibadah yang istiqomah, "terangnya kepada awak media. 

Keislaman bisa terlihat pada perayaan besar, tetapi keimanan sejati teruji dalam kebiasaan kecil yang dilakukan dengan ketulusan dan konsistensi termasuk bagaimana membangun jiwa semangat toleransi tepo seliro kepada yang lain tanpa memandang mayoritas minoritas serta benar-benar dengan rasa hati menjaga jalinan tali silaturahmi.

"Dengan niat yang tulus ikhlas dan maksud hati terdalam izinkan saya menyampaikan mohon ma'af lahir dan bathin, semoga berkenan dan bermanfaat menginspirasi dari kutipan Buya Hamka, " Pungkasnya. 

-Man Tayax-