AWK Sarankan Stop Kuliah Pariwisata, Komang Artana Bali Butuh SDM Profesional

DENPASAR - Opini yang dilontarkan Senator Arya Wedakarna yang menganjurkan untuk stop atau mengurangi mengambil jurusan sekolah maupun perkuliahan Pariwisata membuat beberapa tokoh Pariwisata angkat bicara.
Arya Wedakarna (AWK) menuturkan bahwa indikasi ekonomi di Bali dengan adanya program efisiensi dari pemerintah pusat, mengakibatkan banyaknya kegiatan kerja di Bali ditiadakan.
Disana ia mengatakan bahwa keadaan itu akan berlangsung sampai tahun 2029 mendatang. Solusi itulah yang ditawarkan oleh AWK untuk masyarakat Bali.
"Lebih kepada jurusan perikanan, pertanian, perkebunan, agro wisata, wirausaha yang diluar dunia pariwisata, agar tidak terjadi pengangguran selama 5 tahun kedepan, " ujarnya dalam sebuah tayangan Video.
Hal lain diungkapkan oleh tokoh Pariwisata Komang Artana, selaku Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) DPD Bali. Ia menuturkan Bali memiliki kekayaan budaya, adat istiadat dan keindahan alam yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang menjadi destinasi pariwisata utama dunia.
"Dalam upaya mencapai hal tersebut, Bali membutuhkan tenaga profesional yang terampil dalam bidang pariwisata untuk mengelola dan mengembangkan industri ini, " tulisnya dalam sebuah wawancara singkat melalui pesan elektronik, Rabu 19 Maret 2025.
Justru terbalik dalam penuturannya, Industri pariwisata Bali saat ini mengalami perkembangan pesat dan menjadi pilar utama perekonomian pulau ini. Pada tahun 2024, Bali menerima 6.333.360 wisatawan mancanegara, meningkat 20,10% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sektor ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pelestarian adat, budaya, dan seni. Namun, tanpa perekonomian yang sehat dan sistem pendukung yang kuat, Bali akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga dan mengembangkan berbagai aspek yang ada di pulau ini.
"Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata menjadi hal yang sangat penting. Sekolah-sekolah pariwisata dengan tenaga ahli harus terus menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan spesialisasi yang sesuai dengan kebutuhan industri yang berkembang, " tekannya.
"Bahkan, sebagian besar di antaranya hanya berstatus pekerja harian lepas dengan gaji yang lebih rendah dari upah minimum kota (UMK)"
"Fenomena ini, yang sering dibenarkan dengan alasan efisiensi perusahaan, mencerminkan ketimpangan yang terjadi di sektor ini, dengan rasio pekerja kontrak dan harian lepas mencapai 80:20 hingga 50:50, bahkan 40:60"
"Perbandingan ini jelas menunjukkan bahwa penghargaan terhadap tenaga profesional pariwisata di Bali masih sangat minim, meskipun mereka seharusnya mendapatkan penghidupan yang layak sesuai dengan keterampilan dan keahlian yang mereka miliki, " paparnya.
Seirama dengan tagar kabur aja dulu yang sempat viral itu, akibatnya banyak lulusan pariwisata Bali memilih bekerja di luar negeri, di mana mereka memperoleh imbalan yang lebih sesuai dengan keahlian mereka, khususnya di bidang keramahtamahan yang diakui dunia.
"Tentu ini akan menjadi masalah besar dalam mempertahankan tenaga profesional terampil, situasi ini seharusnya menjadi pemicu bagi seluruh pihak terkait untuk segera memperhatikan permasalahan ini dan melakukan perubahan mendasar di sektor pariwisata, " harapnya.
Saatnya memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada lulusan pariwisata Bali, karena mereka adalah aset utama yang akan menjaga dan memastikan Bali tetap menjadi destinasi pariwisata dunia yang tak tertandingi. (Ray)