Dari Sampah Jadi Berkah, Kolaborasi Komunitas Angen dan BTID Dorong Solusi Organik di Serangan

Dari Sampah Jadi Berkah, Kolaborasi Komunitas Angen dan BTID Dorong Solusi Organik di Serangan
Eco Enzym

Denpasar, Bali — Upaya penanganan sampah organik di Kota Denpasar terus menemukan bentuk konkret di lapangan. Di Desa Serangan, Komunitas Angen bersama PT Bali Turtle Island Development (BTID) menghadirkan inovasi pengolahan limbah organik menjadi produk bernilai guna melalui pembuatan Eco-Enzyme, cairan multifungsi ramah lingkungan.

Program yang berjalan sejak akhir Desember 2025 ini memanfaatkan limbah buah-buahan dari aktivitas warung kuliner serta sisa sarana upakara. Limbah tersebut diolah melalui proses fermentasi menjadi cairan yang dapat digunakan sebagai pembersih alami, pupuk organik, hingga membantu penjernihan air.

Pembina Komunitas Angen, I Wayan Patut, menjelaskan bahwa proses produksi Eco-Enzyme membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Tahapan dimulai dari pengumpulan bahan baku, pencacahan, hingga fermentasi menggunakan wadah galon bekas.

“Seluruh proses menggunakan bahan organik tanpa campuran kimia. Kami juga menambahkan bunga lokal seperti kenanga dan kantil agar aroma hasil fermentasi tetap segar,” ujarnya.

Selain menghasilkan produk utama, inovasi ini juga meminimalkan limbah sisa. Ampas hasil fermentasi dimanfaatkan kembali sebagai bahan kompos dan pupuk padat alami yang dapat langsung digunakan pada tanaman. Bahkan, residu tersebut disebut mampu membantu mengurangi gangguan lalat di lingkungan sekitar.

Menurut I Wayan Patut, inisiatif ini tidak hanya berfokus pada pengolahan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar mulai memilah sampah dari sumbernya.

“Kesadaran itu harus dimulai dari rumah tangga. Tidak semua sampah harus dibuang, sebagian bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pengelola kawasan Kura-Kura Bali yang memberikan ruang bagi komunitas untuk berkembang dan memasarkan hasil produksinya dalam berbagai kegiatan.

Sementara itu, Kepala Departemen BTID, Zefri Alfaruqy, menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong keterlibatan komunitas lokal dalam kegiatan yang berdampak positif terhadap lingkungan.

“Kami ingin memastikan komunitas memiliki ruang untuk berinovasi. Kegiatan seperti ini tidak hanya menjaga kebersihan kawasan, tetapi juga memberi nilai tambah secara ekonomi,” ujarnya.

Saat ini, fasilitas workshop Komunitas Angen di kawasan Kura-Kura Bali telah mengelola sekitar 150 galon berkapasitas 15 liter serta satu drum berkapasitas 100 liter. Ke depan, produksi Eco-Enzyme ditargetkan meningkat hingga mencapai 2 hingga 5 ton.

Inisiatif ini diharapkan menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular di tingkat komunitas, sekaligus memperkuat upaya pemerintah dalam mengurangi beban sampah organik di perkotaan.

Editor - Ray