Rakorwil PSI Bali! Kaesang Pangarep Apresiasi Soliditas Struktur hingga Akar Rumput
BADUNG – Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bali yang digelar di The Trans Resort, Badung, Sabtu (24/1), menjadi momentum konsolidasi penting bagi PSI di Pulau Dewata. Kegiatan ini dihadiri langsung Ketua Umum DPP PSI, Kaesang Pangarep, sekaligus menandai pelantikan jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), hingga Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PSI se-Bali.

Dalam sambutannya, Kaesang menekankan agar seluruh pengurus PSI Bali mampu menjalankan amanah organisasi secara bertanggung jawab dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia sempat melontarkan pernyataan bernada satir yang mengundang reaksi hadirin, dengan mengaku “kecewa”, sebelum kemudian menjelaskan bahwa kekecewaan itu justru bermakna apresiasi.

Kaesang mengaku kecewa karena baru sekarang I Wayan Suyasa memimpin DPW PSI Bali. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Wayan Suyasa, struktur partai di Bali terbentuk secara lengkap dan solid hingga ke tingkat paling bawah. “Sebanyak 57 DPC sudah lengkap, struktur PSI Bali sudah 100 persen terbentuk,” ujar Kaesang.
Ia juga menegaskan harapannya agar PSI Bali mampu memberikan kontribusi besar bagi masyarakat Bali tanpa mengesampingkan nilai-nilai lokal yang telah mengakar kuat. Dalam kesempatan tersebut, Kaesang turut menceritakan proses lahirnya logo baru PSI yang disebut berasal dari Bali, tepatnya di Kabupaten Tabanan. Logo tersebut, menurutnya, melalui proses panjang dan penuh pertimbangan sebelum akhirnya diputuskan menggunakan simbol gajah.
“Sekitar tiga minggu sebelum Kongres, PSI bahkan belum memiliki logo. Dari berbagai usulan, mulai kuda sembrani, burung merpati, elang, hingga akhirnya dipilih gajah dengan warna hitam dan merah yang melambangkan persatuan, kesetiaan, dan kekuatan,” ungkap Kaesang.

Sementara itu, Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali dalam sambutannya menegaskan pentingnya mental gajah bagi seluruh kader PSI. Ia menggambarkan gajah sebagai simbol kekuatan, ketangguhan, dan kesetiaan pada kawanan. Ahmad Ali juga menyatakan keyakinannya bahwa di bawah kepemimpinan Wayan Suyasa, PSI Bali memiliki peluang besar menembus parlemen nasional.
Ia mengingatkan agar PSI Bali mampu berbaur dengan adat dan budaya setempat serta tidak bertentangan dengan nilai-nilai kearifan lokal. “PSI hadir bukan untuk mengubah Bali, melainkan belajar dari adat dan budaya yang sudah ada, agar Bali tetap Bali dengan kebudayaannya yang adiluhung,” tegasnya.

Rakorwil tersebut juga dimeriahkan dengan pertunjukan teatrikal yang mengangkat kisah kelahiran Bima dan Gajah Sena, sebagai simbol filosofi kekuatan dan penyatuan nilai. Tokoh masyarakat Bali, I Made Edi Wirawan, S.E., mantan Wakil Bupati Tabanan, menilai PSI Bali sebagai perpaduan antara generasi muda dan tua. Ia juga mengapresiasi Tabanan sebagai tempat lahirnya logo gajah PSI.
“Ini momentum yang baik. Tabanan dan Bali diharapkan menjadi rumah yang kuat dalam memelihara ‘Gajah’, sebutan bagi kader PSI,” pungkasnya. | Tim

