Dipimpin dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra, Guru Bali Public School Dilatih Tangani Tersedak dan Didorong Peduli Lingkungan
BALI – Kesiapan tenaga pendidik dalam menghadapi kondisi darurat kesehatan menjadi perhatian serius dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang digelar di Bali Public School. Melalui program ini, guru dan pegawai sekolah tidak hanya dibekali keterampilan penanganan kasus tersedak, tetapi juga diedukasi untuk menerapkan penggunaan kemasan ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.

Sebanyak 12 guru dan pegawai Bali Public School mengikuti pelatihan intensif yang dirancang sebagai respons atas tingginya potensi kejadian sumbatan jalan napas di lingkungan pendidikan, sekaligus masih dominannya penggunaan plastik sekali pakai. Kegiatan ini menempatkan tenaga pendidik sebagai garda terdepan dalam menjaga keselamatan peserta didik serta mendorong perilaku berkelanjutan.

Narasumber utama kegiatan, dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra, Sp.B, menegaskan bahwa kasus tersedak merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang kerap diremehkan, padahal berisiko fatal bila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Menurut dr. Rai, sekolah merupakan lingkungan dengan mobilitas tinggi, sehingga potensi tersedak dapat terjadi kapan saja, baik pada siswa maupun orang dewasa.
“Ketika terjadi sumbatan jalan napas dan tidak segera ditangani, korban dapat mengalami kekurangan oksigen hingga berujung kematian. Karena itu, guru dan pegawai sekolah wajib memiliki kemampuan dasar untuk mengenali tanda tersedak dan melakukan pertolongan pertama secara benar,” tegas dr. Rai. Ia juga menekankan pentingnya penguasaan teknik back blows, chest thrusts, dan abdominal thrusts sebagai langkah awal penyelamatan nyawa.

Penguatan materi kegawatdaruratan ini dilengkapi oleh dr. Ni Made Puspa Dewi Astawa, Sp.OT, yang menyoroti pentingnya praktik langsung dalam proses pembelajaran. Menurutnya, pelatihan yang hanya bersifat teoritis tidak cukup untuk membangun kesiapan peserta menghadapi situasi darurat nyata.
“Melalui simulasi menggunakan manekin, peserta dapat melatih respons motorik dan mental secara bersamaan. Kepercayaan diri untuk bertindak cepat dan tepat sangat menentukan keberhasilan pertolongan pertama serta meminimalkan risiko cedera lanjutan,” jelas dr. Puspa.

Selain aspek kesehatan, PKM ini juga mengangkat isu lingkungan hidup. Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si, sebagai narasumber bidang lingkungan, menekankan peran strategis institusi pendidikan dalam mengurangi dampak pencemaran plastik. Ia menyebut sekolah sebagai ruang efektif untuk menanamkan nilai keberlanjutan sejak dini.
“Peralihan ke kemasan ramah lingkungan seperti kertas, bambu, atau bioplastik tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga membentuk pola pikir generasi muda agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Prof. Luh Suriati.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap, diawali dengan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal peserta, dilanjutkan dengan penyampaian materi medis terkait sumbatan jalan napas, pelatihan praktik pertolongan pertama menggunakan manekin, serta edukasi mengenai jenis dan manfaat kemasan ramah lingkungan. Kegiatan ditutup dengan post-test sebagai sarana evaluasi efektivitas pelatihan.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta sebesar 32 persen. Para guru dan pegawai dinilai lebih siap dalam menangani kasus tersedak serta menunjukkan komitmen untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah. Sebagai tindak lanjut, tim PKM menyerahkan modul edukasi, contoh kemasan ramah lingkungan, serta satu set alat P3K dan emergency kit guna mendukung kesiapsiagaan di Bali Public School.
Kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 15 terkait perlindungan ekosistem daratan.

Melalui kegiatan ini, Bali Public School diharapkan menjadi model lingkungan pendidikan yang sigap menghadapi kegawatdaruratan medis sekaligus konsisten membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan.
Editor: Ray

