Pelatihan Penanganan Awal Gigitan Binatang, Akademisi Dorong Standar Keselamatan Kerja di Kebun Binatang
GIANYAR - Risiko gigitan dan cakaran hewan menjadi ancaman nyata bagi pekerja kebun binatang yang setiap hari berinteraksi langsung dengan satwa. Menyadari potensi bahaya tersebut, tim akademisi Universitas Warmadewa menggelar pelatihan penanganan awal gigitan binatang bagi puluhan pegawai Bali Zoo, sebagai upaya pencegahan penyakit dan peningkatan keselamatan kerja di lingkungan konservasi satwa.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan 35 pegawai Bali Zoo dari berbagai divisi, mulai dari perawat satwa, petugas keamanan, hingga kebersihan lingkungan. Program ini diprakarsai oleh dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra, Sp.B, dr. I Putu Arya Giri Prebawa, SpPD, serta Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, MSi, yang menyoroti pentingnya penanganan awal luka gigitan hewan untuk menekan risiko infeksi dan penyakit zoonosis.

dr. A.A. Ngurah Rai Kusuma Putra menjelaskan, gigitan binatang bukan sekadar luka fisik, melainkan dapat berkembang menjadi masalah medis serius apabila tidak ditangani dengan prosedur yang benar.
“Penanganan awal yang tepat sangat menentukan. Luka gigitan berisiko tinggi menimbulkan infeksi bakteri, bahkan penularan penyakit, jika pekerja tidak memahami langkah pertolongan pertama yang sesuai standar medis,” ujarnya.
Selain aspek kegawatdaruratan medis, pelatihan ini juga menekankan pencegahan kecelakaan kerja dan keselamatan pengunjung. Bali Zoo sebagai destinasi wisata edukatif menerima ribuan pengunjung pada waktu-waktu tertentu, sehingga interaksi manusia dan satwa tidak dapat dihindari sepenuhnya. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan petugas dalam menghadapi situasi darurat di lapangan.
Sementara itu, dr. I Putu Arya Giri Prebawa, SpPD, menyoroti pentingnya sanitasi lingkungan dan manajemen risiko penyakit. Menurutnya, penanganan luka gigitan harus diiringi dengan pemahaman tentang kebersihan area kerja. “Infeksi tidak hanya berasal dari luka, tetapi juga dari lingkungan. Sanitasi yang baik dan prosedur kerja yang benar akan menurunkan risiko penyebaran penyakit, baik pada petugas maupun pengunjung,” katanya.

Tidak hanya fokus pada penanganan gigitan binatang, program ini juga mengangkat isu pengelolaan limbah kebun binatang, terutama limbah organik berupa kotoran satwa dan sisa pakan. Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, MSi, menegaskan bahwa pengelolaan limbah yang tidak optimal dapat berdampak pada kesehatan dan lingkungan sekitar.
“Limbah kebun binatang harus dikelola secara ramah lingkungan. Jika tidak, potensi pencemaran dan penyebaran penyakit akan meningkat,” ujarnya.
Pelatihan yang berlangsung pada Sabtu, 2 Oktober 2025, ini diawali dengan pengukuran pengetahuan peserta melalui pre-test, kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan, demonstrasi pertolongan pertama pada luka gigitan, serta edukasi pengelolaan limbah.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta sebesar 27 persen, berdasarkan perbandingan nilai pre-test dan post-test.

Capaian tersebut dinilai sebagai indikator keberhasilan program dalam meningkatkan kapasitas pegawai kebun binatang. Selain materi edukasi, tim pengabdian juga menyerahkan bantuan berupa peralatan P3K, antiseptik, dan perlengkapan emergensi, yang kini telah dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan di lingkungan kerja Bali Zoo.
Program ini mendapat respons positif dari para peserta, yang menilai pelatihan tersebut relevan dengan risiko kerja sehari-hari. Tim akademisi merekomendasikan agar kegiatan serupa dilakukan secara berkala dan diperluas ke kebun binatang serta pusat konservasi lainnya, guna membangun standar keselamatan kerja yang lebih baik.

Melalui pelatihan ini, para akademisi berharap penanganan awal gigitan binatang tidak lagi dianggap sebagai pengetahuan tambahan, melainkan menjadi kompetensi wajib bagi setiap pekerja kebun binatang, demi melindungi keselamatan petugas, pengunjung, dan kelestarian lingkungan.
Editor - Ray

