Blokade Truk Lumpuhkan Pelabuhan Ketapang, Arus Jawa-Bali Tersendat 6 Jam

Puluhan Truk Tronton Memblokade Akses Dermaga Ketapang, Memicu Antrean Panjang Kendaraan dan Mengganggu Arus Penyeberangan Jawa-Bali Selama Berjam-jam

Blokade Truk Lumpuhkan Pelabuhan Ketapang, Arus Jawa-Bali Tersendat 6 Jam
Blokade mulai terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.

BANYUWANGI — Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, terganggu selama berjam-jam setelah puluhan truk logistik memblokade akses pelabuhan pada Sabtu (26/9/2026). Aksi tersebut membuat kendaraan yang hendak masuk maupun keluar pelabuhan tertahan dan menghambat aktivitas bongkar muat kapal rute Ketapang–Gilimanuk.

Blokade mulai terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Sejumlah truk tronton diparkir di area akses keluar dan masuk pelabuhan sehingga pergerakan kendaraan di dalam kawasan pelabuhan ikut tersendat. Berdasarkan laporan sejumlah media lokal, aksi tersebut berakhir sekitar pukul 20.00 WIB setelah berlangsung sekitar enam jam.

Dampaknya tidak hanya dirasakan kendaraan logistik. Kendaraan pribadi, angkutan umum, pikap hingga truk yang hendak menyeberang ke Bali ikut tertahan. Sejumlah calon pengguna jasa bahkan harus menunggu di sekitar kawasan pelabuhan karena akses kendaraan mengalami hambatan. Antrean kendaraan dilaporkan memanjang hingga beberapa kilometer.

Gangguan tersebut juga berdampak terhadap operasional kapal. Laporan di lapangan menyebut sejumlah kapal dari arah Gilimanuk mengalami kesulitan untuk bersandar karena akses di area pelabuhan terblokade. Aktivitas bongkar dan muat kendaraan pun ikut terganggu.

Sopir Tuntut Kepastian Pengaturan Dermaga LCM

Aksi para sopir bukan muncul tanpa alasan. Ketua Gerakan Aliansi Pengemudi Indonesia Bersatu (Gapiber) Banyuwangi, Mukhlas, mengatakan para pengemudi mempersoalkan pengaturan kendaraan di Dermaga LCM.

Menurut Mukhlas, sebelumnya terdapat kesepakatan agar Dermaga LCM diprioritaskan untuk kendaraan logistik berukuran besar. Namun, para sopir mempersoalkan kembali masuknya kendaraan kecil seperti pikap dan cold diesel ke dermaga tersebut.

“Untuk dermaga LCM itu khusus mobil logistik. Jadi enggak di-PHP seperti kemarin. Perjanjian dari ASDP, sore hari ini dibuat, malam sudah dilanggar. Kita enggak mau terjadi seperti itu lagi,” ujar Mukhlas seperti dikutip KabarBaik.co.

Sementara itu, sopir logistik Made Artawan menyebut para pengemudi sudah berulang kali menyampaikan persoalan kemacetan di kawasan Ketapang. Ia menegaskan tuntutan utama mereka berkaitan dengan kelancaran arus kendaraan dan kepastian aturan.

“Kami selaku sopir tuntutannya hanya ingin kelancaran. Jangan kami di-PHP-kan terus seperti ini. Sudah enam kali kami melakukan hal seperti ini, cuma janji, janji, dan janji saja, tidak pernah ditepati,” kata Made Artawan.

Made juga menyebut para sopir menginginkan adanya kesepakatan tertulis yang melibatkan pejabat berwenang sebagai bentuk kepastian penyelesaian persoalan antrean dan pengaturan kendaraan di kawasan penyeberangan.

Keluhan mengenai kemacetan di Ketapang sebelumnya memang telah menjadi perhatian berbagai pihak. Polresta Banyuwangi pada 11 September 2026 menggelar koordinasi lintas instansi untuk membahas kepadatan kendaraan, termasuk rencana penambahan kapasitas penyeberangan dan kajian pemanfaatan Dermaga Bulusan. Rapat tersebut melibatkan kepolisian, pemerintah daerah, ASDP, Pelindo, Dinas Perhubungan, KSOP, KPLP dan sejumlah instansi terkait.

Dari sisi operator, ASDP sebelumnya juga telah melakukan penyesuaian pola operasi untuk menghadapi tingginya volume kendaraan. ASDP menyebut kendaraan logistik berkapasitas besar antara lain dilayani melalui Dermaga MB IV dan LCM. Pengaturan operasional dilakukan secara dinamis dengan mempertimbangkan kondisi trafik, kesiapan dermaga dan kapal.

Pada Sabtu (26/9), ASDP juga mendapat tambahan armada dengan mulai beroperasinya KMP Trisila Bhakti III di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Kapal berkapasitas 2.400 GRT tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan kapasitas layanan penyeberangan Jawa–Bali.

Aksi blokade akhirnya berakhir sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, persoalan antrean dan pengaturan kendaraan logistik di Ketapang masih menjadi pekerjaan yang membutuhkan penyelesaian lintas instansi agar gangguan serupa tidak kembali terjadi.

Bagi arus logistik Jawa–Bali, persoalan tersebut menjadi krusial karena Ketapang merupakan salah satu simpul utama distribusi kendaraan dan barang dari Pulau Jawa menuju Bali.

Editor - Ray