Bali Genjot Listrik Mandiri 2,74 GW, Ketergantungan pada Jawa Dikurangi

PLN menargetkan pembangunan pembangkit listrik 2,74 GW di Bali dalam RUPTL 2025–2034 untuk mengurangi ketergantungan pasokan listrik dari Jawa, memperkuat keandalan energi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai 8,02 persen per tahun.

Bali Genjot Listrik Mandiri 2,74 GW, Ketergantungan pada Jawa Dikurangi
Ilustrasi : Sutet

RUPTL 2025–2034 menjadi peta jalan menuju kemandirian energi Bali melalui kombinasi pembangkit EBT, battery storage, pembangkit gas, serta pembangunan jaringan listrik sepanjang 885 kilometer.

DENPASAR – PT PLN (Persero) menyiapkan langkah besar untuk memperkuat ketahanan energi di Pulau Bali melalui penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 2,74 gigawatt (GW) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Program ini menjadi strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Bali terhadap pasokan listrik dari Pulau Jawa sekaligus menjawab lonjakan kebutuhan energi yang terus meningkat.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali, Ajrun Karim, mengatakan pertumbuhan konsumsi listrik di Bali mencapai 8,02 persen per tahun, jauh di atas rata-rata nasional. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata yang terus berkembang sehingga membutuhkan sistem kelistrikan yang semakin andal.

"Pertumbuhan kebutuhan listrik di Bali mencapai 8,02 persen per tahun. Karena itu, penguatan sistem kelistrikan menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan sektor pariwisata," ujar Ajrun Karim saat menjadi pembicara dalam Indonesia Solar Summit 2026 di Denpasar.

Saat ini PLN melayani sekitar 1,96 juta pelanggan di Bali dengan beban puncak yang telah mencapai sekitar 1.300 megawatt (MW). Seiring meningkatnya investasi dan aktivitas ekonomi, kebutuhan listrik diproyeksikan terus bertambah sehingga diperlukan pembangunan kapasitas pembangkit baru beserta jaringan pendukungnya.

Dalam RUPTL 2025–2034, tambahan kapasitas 2,74 GW tersebut akan dibangun melalui kombinasi berbagai sumber energi.

Sebanyak 886,8 MW berasal dari pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai bagian dari komitmen transisi menuju energi bersih. Kemudian 307,5 MW dialokasikan untuk sistem battery energy storage yang berfungsi menjaga keandalan pasokan listrik dari pembangkit energi terbarukan yang bergantung pada kondisi cuaca.

Sementara itu, sekitar 1.550 MW akan dipenuhi melalui pembangkit berbahan bakar gas yang berperan sebagai energi transisi guna menjaga stabilitas sistem kelistrikan hingga kapasitas energi terbarukan semakin berkembang.

Selain membangun pembangkit baru, PLN juga akan memperkuat infrastruktur dengan pembangunan sekitar 885 kilometer jaringan transmisi dan distribusi. Pengembangan jaringan tersebut bertujuan memastikan pasokan listrik dapat menjangkau seluruh wilayah Bali dengan kualitas yang lebih baik dan lebih andal.

Penguatan sistem kelistrikan dinilai menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan sektor pariwisata, industri kreatif, investasi, hingga pengembangan kawasan ekonomi baru di Pulau Dewata. Dengan bertambahnya kapasitas pembangkit dan jaringan distribusi, Bali diharapkan memiliki sistem energi yang lebih mandiri sekaligus mampu mendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Editor - Ray