Legenda Tusuk Konde jadi Penentu Wahyu Keprabon

Legenda Tusuk Konde jadi Penentu Wahyu Keprabon
Foto: Kolasi ilustrasi, tusuk konde dan kerajaan. (IST)

Jakarta - Cerita menjelang malam sembari menunggu rembulan bersinar terang, saatnya tiba bulan purnama penanggal 5. Disitu, terbersitlah kisah di suatu waktu, saat Sutowijoyo sedang bermeditasi, tanpa sengaja sang paman, Ki Juru Mertani melihat adanya perpindahan sinar 'ndaru' yang ia yakini sebagai 'wahyu keprabon' berpindah dari Pajang menyelusup masuk dalam jiwa raga Sutowijoyo.

Sutowijoyo atau juga dikenal sebagai Senopati, adalah anak angkat Raja Pajang, Sultan Hadiwijoyo alias Joko Tingkir. Maka dibisikkanlah kejadian tersebut beserta tafsirnya, bermula dari hal itu telah menginspirasi Sutowijoyo untuk mempersiapkan diri sebagai Raja di Tanah Jawa.

Walaupun secara hukum ketatanegaraan yang berlaku waktu itu, hal tersebut tak dimungkinkan. Namun karena keyakinannya bahwa 'wahyu keprabon' telah berpindah ke dalam dirinya maka dia yakin bahwa akan bisa menjadi raja di tanah Jawa ini.

Kisah kemudian berlanjut, sampai dengan adanya kejadian peperangan antara dia melawan bapak angkatnya sendiri yang akhirnya dimenangkan olehnya. Namun sayang, penobatan dirinya sebagai Raja belum mendapat pengakuan resmi dari Jamaah Wali yang masih hidup saat itu, khususnya Kanjeng Sunan Giri Prabu Satmoto. 

Dari situ Senopati berupaya mencari langkah politis untuk mendapat legimitasi sebagai Raja Jawa. Bermula dari situ, dikisahkan konon beliau telah direstui oleh Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa gaib pantai selatan. Berbekal dari 'restu' Nyai Ratu inilah Senopati menobatkan dirinya sebagai Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati.

Kisah ini sebenarnya hampir sama atau ada kemiripan dengan kisah suksesi yang dialami oleh Ken Arok. Alkisah dia mendengar pembicaraan Dewa Wisnu yang meramalkan bahwa 'bocah angon' yang bernama Ken Arok bakal menjadi Raja Besar di tanah Jawa.

Dari 'bocoran' tersebut menginspirasi Ken Arok untuk berusaha agar mampu merebut tahta Tumapel. Berpuluh tahun dia menyiapkan dengan sekenario matang, hingga pada saatnya dia mampu merebut kekuasaan Tumapel. Bahkan mampu mendirikan kerajaan sendiri yaitu Singasari.

Sepertinya gaya suksesi dengan model 'wahyu keraton' ini tetap bertahan di Nusantara, dewasa ini bernama Negara Indonesia. Lihatlah, bagaimana Bung Karno menjadi 'Raja' Indonesia di masanya.

Kemunculannya begitu fenomenal dalam sejarah.  Pengganti beliaupun demikian, Pak Harto, awal kemunculannya pun dianggap sebagai 'wakil Tangan Tuhan' untuk menyelamatkan bangsa ini, yang akhir-akhir ini bergema soal satrio piningit.

Calon pemimpin yang diidam-idamkan. Jangan-jangan Anda juga terinspirasi oleh 'mimpi menjadi' satri piningit, kemudian Anda dengan segala cara mempersiapkan diri menjadi 'Raja' Indonesia berikutnya? 

Atau sebenarnya cerita tentang wahyu keprabon dan satrio piningit itu hanya rekayasa oleh sekelompok orang dari satu generasi sejarah ke generasi sejarah berikutnya, yang tujuannya hanya dipakai mempersiapkan diri menjadi 'Raja'? Bagaimana pendapat Anda?!

Tusuk konde merupakan penentu dari kemenangan, karena tusuk konde akan bergerak menusuk kertas suara. (*)