Tabanan Ada Pura Pengikat Jagat Pemberi Banyak Berkah, Pura Luhur Pucak Petali

Tabanan Ada Pura Pengikat Jagat Pemberi Banyak Berkah, Pura Luhur Pucak Petali
Pura Luhur Pucak Petali, Tabanan.

Rabu, 22 Mei 2024 | 17.30 WITA

TABANAN -  Selain Gunung Agung dan Gunung Batur, Gunung Batukaru di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan juga merupakan salah satu gunung yang tidak boleh diragukan kesuciannya. Sejumlah pura juga mengelilingi Gunung ini, salah satunya adalah Pura Luhur Pucak Petali yang berlokasi di Desa Pekraman Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan. 

Pura Luhur Pucak Petali dipercaya sebagai tempat untuk memohon keadilan atau tuntunan untuk bisa berbuat adil bagi umat Hindu, sehingga menjelang ajang Pilkada atau Pileg maka Pura ini akan ramai didatangi oleh para caleg maupun calon pimpinan daerah yang ada di wilayah Bali.

Berada di kaki Gunung Batukaru sebelah timur, pura ini dapat dijumpai setelah memasuki kawasan Desa Jatiluwih dengan mengikuti penunjuk arah yang ada. 

Salah satu Jero Mangku Pura Luhur Pucak Petali, I Wayan Adi Santika  menerangkan,  nama Pura Luhur Pucak Petali berasal dari kata ‘Butali’ yang artinya Bumi dan Tali, sehingga jika digabungkan berarti pengikat jagat atau pengerajeg jagat. Namun sayang, hingga saat ini belum ditemukan babad atau purana yang menjelaskan mengenai keberadaan pura yang merupakan Pura Kahyangan Jagat tersebut. “Hanya yang ada adalah Purana mengenai upakara saja dan Purana tentang Periangan Ida saja,” ujarnya kepada Gatra Dewata.  

Kendati demikian, cerita turun temurun mengenai pura tersebut tetap ada dan dipercayai masyarakat sekitar. Di mana menurut para tetua keberadaan Pura Luhur Pucak Petali berkaitan dengan adanya Pura Kahyangan Jero Luh yang juga ada di Desa Jatiluwih. Karena pada zaman dahulu pernah ada seekor macan yang diikat di Pohon Nangka yang ada di Pura Kahyangan Jero Luh. Namun, macan tersebut kemudian berhasil menyelamatkan diri dan berlari ke arah hutan yang ad di kaki Gunung Batukaru. Masyarakat pun mengejar macan tersebut, dan sesampainya di tengah hutan tersebut masyarakat melihat ada gundukan batu yang dikeliling dengan Penyalin (rotan). Gundukan batu itulah yang kemudian kini menjadi Palinggih Utama di Pura Luhur Pucak Petali. Dan, macan itu pun dipercaya menjadi salah satu Rerencangan Ida Betara di Pura Luhur Pucak Petali.

Jero Mangku I Wayan Adi Santika menambahkan, karena dulunya merupakan gundukan batu, maka kawasan Pura Luhur Pucak Petali pun masuk situs bersejarah berupa Punden Berundak. 

Lebih lanjut, ketika mulai memasuki pura ini kita akan disambut dengan areal Penataran Bale Agung yang terdiri dari Palinggih Pokok, Bale Pegat, Bale Kulkul, Bale Gong Empat, Bale Dawa Linggih Tapakan Ida Betara, dan Jineng. Setelah itu, maka kita selanjutnya memasuki areal Palinggih Ratu Nyoman dan Ratu Wayan yang terdiri dari Piasan Madu Kekalih, Apit Lawang, Palinggih Gedong, Palinggih Madya (Palinggih Ratu Nyoman dan Ratu Wayan), Gedong Pangabih yang ada di kedua sisi Palinggih Madya, Piasan Pokok Ratu Nyoman dan Ratu Wayan, Bale Pasamuan dan Bale Panitia.

Jadi, sebelum kita menghaturkan persembahyangan di areal Utama Mandala maka terlebih dahulu harus memohon izin di hadapan Palinggih Ida Ratu Nyoman dan Ratu Wayan,” lanjutnya.

Dan, memasuki Utama Mandala kita aman menemui Bale Linggih di sebelah timur, kemudian Meru Pasimpangan Tamblingan, Gedong Krinan, Gedong Simpen, Palinggih Pokok (Palinggih Utama), Pasimpangan Taksu Agung, Piasan Alit, Bale Pasamuan, Piasan Ageng, lalu di belakang Palinggih Utama juga terdapat sebuah Beji Pengit dan Palinggih Bambang. Serta Pasraman Puri dan Mangku, Dapur Suci dan bangunan lainnya di sisi sebelah barat Pura.

Sudah menjadi hal yang wajar apabila setiap Pujawali yang jatuh pada Buda Kliwon Ugu atau  hari-hari biasa pura ini kedatangan para pejabat atau bahkan para pemimpin daerah yang ada di Bali. Karena sebagai pura yang dipercayai merupakan Pengikat Jagat, di Pelinggih Utama tersebut dipercayai merupakan linggih Dewa Keadilan yang akan memberikan keadilan bagi umatnya. “Pada momen Pilkada atau Pileg pasti ramai para calon tangkil  memohon kelancaran,” sambungnya.

Bila menghaturkan persembahyangan di pura ini, kita akan melihat suatu keunikan, yakni tumbuh sebuah pohon di Palinggih Utama yang tingginya sekitar 10 meter. Namun, hingga kini jenis pohon tersebut tak diketahui, meskipun beberapa kali  telah diteliti oleh Dinas Purbakala dari Provinsi maupun dari Pusat.  Bahkan, pernah diteliti oleh pihak luar negeri. “Ada yang bilang Pohon Kresek tapi bukan, ada yang bilang Bunut juga bukan, tetapi daunnya seperti Pohon Beringin. Bahkan, setelah sempat diteliti juga belum diketahui jelas pohon itu jenis apa,” ujar Assistant Manager 1 DTW Jatiluwih I Wayan Suwiarka.

Di saat bersamaan berlangsung nya WWF dan kunjungan para delegasi ke Jatiluwih Rice Terrace, UNESCO Heritage Site, I Wayan Purna selaku Manager DTW Jatiluwih bersama I Wayan Suwiarka selalu Assistant Manager 1 dan Eka selaku sekretaris DTW Jatiluwih mengajak tim dari Bali Heritage untuk Tangkil menghaturkan bakti di hari Purnama ke Pura Puncak Petali sore hari setelah acara kunjungan para delegasi hari itu 22 Mei 2024.

Adapun keunikan dari pohon tersebut adalah daunnya yang sudah tua akan gugur bersamaan sehingga pada suatu musim pohon tersebut akan gundul tanpa daun. Selanjutnya, setelah memasuki musim semi, maka akan muncul Kecupi seperti bunga Cempaka yang masih kuncup berwarna putih. Nantinya, Kecupi tersebut akan mekar menjadi daun dan pembungkusnya yang berwarna putih akan berguguran.

“Jadi, suatu ketika di Utama Mandala akan dipenuhi dengan daun yang berguguran, dan ketika musim semi areal Utama Mandala akan dipenuhi dengan pembungkus daun berwarna putih seperti kapas ,dan itu musimnya tidak menentu,” sambungnya. 

Selain Pujawali, setiap harinya pura ini juga ramai didatangi para umat, utamanya pada saat Rahina Tilem dan Purnama, tak jarang umat yang tangkil juga bersemedi dan makemit di pura tersebut, demikian disampaikan oleh I Wayan Suwiarka.

Editor : Anggela Bali